Apa yang sudah aku lakukan selama setahun ini? demikian pertanyaan yang tiba-tiba menyeruak kedalam benak. Mmmmm....sepertinya dua target pencapain terlampaui...bahagia bercampur bimbang akan tanggung jawab yang semakin berat ditahun-tahun mendatang.
Seseorang yang saya anggap sebagai guru kehidupan, saat ini masih 'hot' dan getol mempertanyakan "mana hasil karya, yang bisa dibanggakan untuk anak dan cucumu kelak?". Membuat saya selalu merasa dihantui untuk segera mempertanggungjawabkan perbuatan saya yang sudah berani menantangnya untuk mengeluarkan 2 buah buku sekaligus tahun depan.Mampukah?....saya sudah bermimpi mampu melakukannya, permasalahannya 'nafas masih belum teratur untuk bisa berlari kencang'.
Ditambah lagi mimpi untuk menjadi seorang yang 'expert' dibidang yang sudah menjadi jalan berkarier saat ini....kadang-kadang membuat semangat berkobar, namun kadangkala menjadi batu cadas yang keras, ketika persoalan demi persoalan bermunculan silih berganti....
Mmmmm.....pergantian tahun segera menjelang...saya harus terus berlatih agar bisa mengatur nafas untuk berlari lebih kencang, karena jalan yang akan dilalui semakin terjal dan banyak rintangan mungkin segera menghadang....
SEMOGA....saya berhasil meraih mimpi-mimpi itu..
damai di hati, damai di dunia, damai selalu
Minggu, 13 Desember 2009
Jumat, 20 November 2009
Brush Up Your English
Itulah kata-kata yang selalu terlontar dari ucapan Kakak sulung saya, ketika kami berusaha berkomunikasi melalui email maupun sms dalam bahasa inggris. Memang benar apa yang diucapkannya karena memang tata bahasa inggris saya amat sangat kacau dan sedikit nyeleneh terdengar di telinga, maklum belajar berbahasa inggris di pinggiran pantai Kuta, bersama dengan para pedagang asongan yang menjajakan barang dagangan kepada setiap turis yang melintas di sekitar pantai.
Saya menjadi teringat kembali dengan 'sentilan' halus itu, ketika sedang mengikuti kelas diploma, seorang fasilitator yang pakar di bidang Human Resource Manajemen memberikan presentasinya dan tiba-tiba ada seorang kawan melakukan interupsi mempertanyakan perusahaan-perusahaan besar yang ada di Indonesia selalu mempekerjakan orang asing atau ekspatriat, apakah karena orang-orang Indonesia kurang pintar?
Jawabannya sangat sederhana dan menyentil saya, 'orang Indonesia tidak pandai berkomunikasi dalam bahasa inggris' yang merupakan bahasa pergaulan internasional. Oleh sebab itu perusahaan besar asing maupun lokal lebih senang mempekerjakan ekspatriat, yang fasih berkomunikasi dengan bahasa internasional dengan harapan mampu mengkomunikasikan atau memasarkan perusahaan hingga dapat bersaing di pasar internasional.
Mungkin ada benarnya juga, dari segi kemampuan teknis atau pengetahuan secara umum orang Indonesia tidak kalah dengan para ekspatriat, hal ini terbukti dari banyaknya medali yang diperoleh para pelajar Indonesia diajang olimpiade fisika maupun matematika. Kemampuan menjadi lebih unggul, karena kita berada di rumah atau negara sendiri, tentu kita paham dengan karakter maupun budaya bangsa sendiri.
Tidak mengherankan pula banyak tenaga kerja Indonesia menggarap sektor kelas rendahan di negara lain, karena salah satu faktor komunikasi yang pas-pasan disamping kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan formal.
Lalu apa yang salah? seingga kita bisa berkomunikasi dengan bahasa internasional? sudah pasti dan tidak lain adalah sistem pendidikan yang kurang memperhatikan 'soft skill' anak didiknya untuk mempu bersaing di dunia Internasional.
Coba kita ingat seberapa sering kita mempergunakan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari? mungkin hanya pada saat mengikuti pelajaran bahasa inggris di sekolah ataupun tempat kursus saja, itupun kadangkala bolos. Sangat sedikit waktu yang kita pergunakan untuk mengasah kemampuan dalam menguasai bahasa asing
Jadi, apa yang harus kita lakukan agar sumber daya manusia Indonesia mampu bersaing dan menjadi majikan di negerinya sendiri?. Mungkin salah satu langkah nyatanya adalah memulai dari sekarang bimbing putra-putri kita mempelajari dan mampu menguasai minimal 1 bahasa asing, terutama bahasa inggris yang merupakan bahasa bisnis secara global. Niscaya 10 hingga 15 tahun kedepan Indonesia akan menjadi bangsa yang kaya raya dan besar.
Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.
Saya menjadi teringat kembali dengan 'sentilan' halus itu, ketika sedang mengikuti kelas diploma, seorang fasilitator yang pakar di bidang Human Resource Manajemen memberikan presentasinya dan tiba-tiba ada seorang kawan melakukan interupsi mempertanyakan perusahaan-perusahaan besar yang ada di Indonesia selalu mempekerjakan orang asing atau ekspatriat, apakah karena orang-orang Indonesia kurang pintar?
Jawabannya sangat sederhana dan menyentil saya, 'orang Indonesia tidak pandai berkomunikasi dalam bahasa inggris' yang merupakan bahasa pergaulan internasional. Oleh sebab itu perusahaan besar asing maupun lokal lebih senang mempekerjakan ekspatriat, yang fasih berkomunikasi dengan bahasa internasional dengan harapan mampu mengkomunikasikan atau memasarkan perusahaan hingga dapat bersaing di pasar internasional.
Mungkin ada benarnya juga, dari segi kemampuan teknis atau pengetahuan secara umum orang Indonesia tidak kalah dengan para ekspatriat, hal ini terbukti dari banyaknya medali yang diperoleh para pelajar Indonesia diajang olimpiade fisika maupun matematika. Kemampuan menjadi lebih unggul, karena kita berada di rumah atau negara sendiri, tentu kita paham dengan karakter maupun budaya bangsa sendiri.
Tidak mengherankan pula banyak tenaga kerja Indonesia menggarap sektor kelas rendahan di negara lain, karena salah satu faktor komunikasi yang pas-pasan disamping kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan formal.
Lalu apa yang salah? seingga kita bisa berkomunikasi dengan bahasa internasional? sudah pasti dan tidak lain adalah sistem pendidikan yang kurang memperhatikan 'soft skill' anak didiknya untuk mempu bersaing di dunia Internasional.
Coba kita ingat seberapa sering kita mempergunakan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari? mungkin hanya pada saat mengikuti pelajaran bahasa inggris di sekolah ataupun tempat kursus saja, itupun kadangkala bolos. Sangat sedikit waktu yang kita pergunakan untuk mengasah kemampuan dalam menguasai bahasa asing
Jadi, apa yang harus kita lakukan agar sumber daya manusia Indonesia mampu bersaing dan menjadi majikan di negerinya sendiri?. Mungkin salah satu langkah nyatanya adalah memulai dari sekarang bimbing putra-putri kita mempelajari dan mampu menguasai minimal 1 bahasa asing, terutama bahasa inggris yang merupakan bahasa bisnis secara global. Niscaya 10 hingga 15 tahun kedepan Indonesia akan menjadi bangsa yang kaya raya dan besar.
Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.
Senin, 09 November 2009
10 November, Masih relevan-kah untuk diperingati?
Pagi ini setelah menimang-menimang si gadis kecil, saya bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap berangkat ke tempat kerja. Sembari berjibaku dengan padatnya lalu lintas pagi,mata saya jelalatan kanan kiri menjaga kewaspadaan. Tiba-tiba kendaraan saya disalip dari sebelah kiri oleh sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang bapak paruh baya dan membonceng seorang ibu (mungkin istrinya) mengenakan pakaian seragam batik khas pegawai negeri (korpri-baru). Dan beberapa orang pengendara lagi saya jumpai mengenakan seragam batik korpri setelah pasangan itu berlalu. Sangat mudah dikenali jika pegawai negeri mengenakan seragam batik korpri, pasti ada acara istimewa,paling tidak upacara bendera.
Otak saya langsung berusaha mengingat dan mencari tanggal berapa hari ini? Oh iya...10 November, adalah tanggal dan bulan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk memperingati jasa-jasa para pahlawan yang berjuang melawan penjajah untuk memerdekakan negeri ini.
Berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya tenta 17-an ala I Gusti Ngurah Rai, pikiran saya menjadi menerawang jauh kebelakang membayangkan cerita-cerita sejarah tentang patriotisme para pejuang yang berperang melawan penjajah, dan menerawang ke jaman saat ini, dimana orang-orang sudah tidak peduli dengan jasa-jasa para pejuang yang merebut kemerdekaan.
Saya bertanya dalam hati, mungkin pada masa-masa masih duduk di bangku sekolah dasar sampai menengah atas kita semua dipaksa untuk ikut upacara bendera dalam rangka memperingati hari Pahlawan. Akan tetapi setelah lewat masa-masa itu, apa yang saya perbuat untuk memperingati hari Pahlawan?, jawabannya; tidak ada upacara bendera dan bahkan menganggap tanggal 10 November sama seperti tanggal-tanggal yang lain, tidak lebih penting dari hari ulang tahun istri, kakak, adik, orang tua maupun handai taulan.
Sungguh menyedihkan...., hanya untuk mengenang saja, saya tidak mampu apalagi meneruskan perjuangan mereka....
Bagaimana dengan kawan-kawan yang lain? yang merasa sebagai warga negara Republik Indonesia? sudahkah anda memperingati dan mengenang jasa-jasa para pahlawan kita?
semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.
Otak saya langsung berusaha mengingat dan mencari tanggal berapa hari ini? Oh iya...10 November, adalah tanggal dan bulan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk memperingati jasa-jasa para pahlawan yang berjuang melawan penjajah untuk memerdekakan negeri ini.
Berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya tenta 17-an ala I Gusti Ngurah Rai, pikiran saya menjadi menerawang jauh kebelakang membayangkan cerita-cerita sejarah tentang patriotisme para pejuang yang berperang melawan penjajah, dan menerawang ke jaman saat ini, dimana orang-orang sudah tidak peduli dengan jasa-jasa para pejuang yang merebut kemerdekaan.
Saya bertanya dalam hati, mungkin pada masa-masa masih duduk di bangku sekolah dasar sampai menengah atas kita semua dipaksa untuk ikut upacara bendera dalam rangka memperingati hari Pahlawan. Akan tetapi setelah lewat masa-masa itu, apa yang saya perbuat untuk memperingati hari Pahlawan?, jawabannya; tidak ada upacara bendera dan bahkan menganggap tanggal 10 November sama seperti tanggal-tanggal yang lain, tidak lebih penting dari hari ulang tahun istri, kakak, adik, orang tua maupun handai taulan.
Sungguh menyedihkan...., hanya untuk mengenang saja, saya tidak mampu apalagi meneruskan perjuangan mereka....
Bagaimana dengan kawan-kawan yang lain? yang merasa sebagai warga negara Republik Indonesia? sudahkah anda memperingati dan mengenang jasa-jasa para pahlawan kita?
semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.
Minggu, 23 Agustus 2009
17-an ala I Gusti Ngurah Rai
Mungkin hanya setiap tanggal 17 Agustus, kita semua, seluruh rakyat dan bangsa Indonesia akan mengingat, mengenang serta mensyukuri atas pengorbanan dan jasa-jasa para pahlawannya yang telah berjuang merebut kemerdekaan negeri ini dari tangan penjajah.
Itu-pun sebatas upacara bendera dan acara-acara panjat pinang atau sejenisnya, yang diselenggarakan dari tingkat RT dan tidak mungkin hingga tingkat provinsi.
Lalu bagaimana dengan hari-hari atau tanggal-tanggal selain 17 Agustus? Apakah kita akan selalu mengingat dan berterimakasih atas jasa-jasa serta pengorbanan para pahlawan kemerdekaan? Apakah kita akan selalu bersyukur atas keberhasilan mereka yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi meraih kemerdekaan negeri ini?
Saya yakin tidak satupun diantara kita akan berusaha untuk mengingat dan terus mempertahankan semangat perjuangan para pahlawan yang mengusir penjajah.
Cobalah tengok tugu-tugu yang dibangun untuk memperingati suatu peristiwa penting yang pernah terjadi, atau patung-patung para pahlawan yang dibangun berdiri kokoh gagah berani, guna memperingati jasa-jasanya. Semua itu akan 'dihias' dan 'bersolek menjelang peringatan hari kemerdekan bangsa ini, lalu setelah hari itu berlalu, mereka akan 'kesepian' dan tidak ada yang mau menolehnya lagi.
Nama I Gusti Ngurah Rai sangatlah mendunia, siapa yang tidak tahu bandara internasional di Bali yang terletak di Tuban-Badung bernama Bandara internasional I Gusti Ngurah Rai. Akan tetapi ketenaran nama itu tidak serta merta memberikan ketenaran dan keindahan pada sosok patung I Gusti Ngurah Rai yang dibangun di jalan by pass Ngurah Rai Tuban-Badung.
Mungkin bagi orang yang pertama kali datang ke Bali dan kebetulan melintas di jalan tersebut tidak akan mengenal sosok patung tersebut? dikarenakan sudah tidak terawat, kumuh (telah dikelilingi pemukiman dengan bangunan semi permanen, dan rawa-rawa yang tidak tertata rapi).
Ketika saya masih kecil, senang rasanya bisa duduk santai di pelataran patung Gusti Ngurah Rai, diwaktu sore hari, apalagi pada saat hari-hari besar nasional, suasana terasa damai meskipun beberapa kali pesawat terbang melintas persis diatasnya. Sangat terasa suasana jikalau negeri ini telah merdeka. Kadangkala hayalan membawa saya ke masa-masa perang kemerdekaan dibawah komando beliau, meskipun hanya bisa memandang sosok I Gusti Ngurah Rai dalam wujud patung.
Tapi saat ini, siapa yang peduli? jangankan meneruskan semangat perjuangan beliau, yang peduli dengan sosok beliau yang berupa patung saja tidak ada.
Entahlah, kapan kita akan sadar untuk selalu menghormati para pahlawan, meskipun tidak hanya pada tanggal 17 Agustus. Paling tidak kita tetap peduli dan merawat patung atau tugu peringatan para pahlawan negeri Indonesia tercinta ini.
Apakah mungkin hal itu terjadi? mungkin saja, jika kita memulai dari diri sendiri untuk selalu mengobarkan semangat perjuangan dalam bidang apapun demi kemajuan negeri ini.
Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.
Itu-pun sebatas upacara bendera dan acara-acara panjat pinang atau sejenisnya, yang diselenggarakan dari tingkat RT dan tidak mungkin hingga tingkat provinsi.
Lalu bagaimana dengan hari-hari atau tanggal-tanggal selain 17 Agustus? Apakah kita akan selalu mengingat dan berterimakasih atas jasa-jasa serta pengorbanan para pahlawan kemerdekaan? Apakah kita akan selalu bersyukur atas keberhasilan mereka yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi meraih kemerdekaan negeri ini?
Saya yakin tidak satupun diantara kita akan berusaha untuk mengingat dan terus mempertahankan semangat perjuangan para pahlawan yang mengusir penjajah.
Cobalah tengok tugu-tugu yang dibangun untuk memperingati suatu peristiwa penting yang pernah terjadi, atau patung-patung para pahlawan yang dibangun berdiri kokoh gagah berani, guna memperingati jasa-jasanya. Semua itu akan 'dihias' dan 'bersolek menjelang peringatan hari kemerdekan bangsa ini, lalu setelah hari itu berlalu, mereka akan 'kesepian' dan tidak ada yang mau menolehnya lagi.
Nama I Gusti Ngurah Rai sangatlah mendunia, siapa yang tidak tahu bandara internasional di Bali yang terletak di Tuban-Badung bernama Bandara internasional I Gusti Ngurah Rai. Akan tetapi ketenaran nama itu tidak serta merta memberikan ketenaran dan keindahan pada sosok patung I Gusti Ngurah Rai yang dibangun di jalan by pass Ngurah Rai Tuban-Badung.
Mungkin bagi orang yang pertama kali datang ke Bali dan kebetulan melintas di jalan tersebut tidak akan mengenal sosok patung tersebut? dikarenakan sudah tidak terawat, kumuh (telah dikelilingi pemukiman dengan bangunan semi permanen, dan rawa-rawa yang tidak tertata rapi).
Ketika saya masih kecil, senang rasanya bisa duduk santai di pelataran patung Gusti Ngurah Rai, diwaktu sore hari, apalagi pada saat hari-hari besar nasional, suasana terasa damai meskipun beberapa kali pesawat terbang melintas persis diatasnya. Sangat terasa suasana jikalau negeri ini telah merdeka. Kadangkala hayalan membawa saya ke masa-masa perang kemerdekaan dibawah komando beliau, meskipun hanya bisa memandang sosok I Gusti Ngurah Rai dalam wujud patung.
Tapi saat ini, siapa yang peduli? jangankan meneruskan semangat perjuangan beliau, yang peduli dengan sosok beliau yang berupa patung saja tidak ada.
Entahlah, kapan kita akan sadar untuk selalu menghormati para pahlawan, meskipun tidak hanya pada tanggal 17 Agustus. Paling tidak kita tetap peduli dan merawat patung atau tugu peringatan para pahlawan negeri Indonesia tercinta ini.
Apakah mungkin hal itu terjadi? mungkin saja, jika kita memulai dari diri sendiri untuk selalu mengobarkan semangat perjuangan dalam bidang apapun demi kemajuan negeri ini.
Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.
Langgan:
Entri (Atom)
