Pagi ini setelah menimang-menimang si gadis kecil, saya bergegas menuju kamar mandi dan bersiap-siap berangkat ke tempat kerja. Sembari berjibaku dengan padatnya lalu lintas pagi,mata saya jelalatan kanan kiri menjaga kewaspadaan. Tiba-tiba kendaraan saya disalip dari sebelah kiri oleh sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang bapak paruh baya dan membonceng seorang ibu (mungkin istrinya) mengenakan pakaian seragam batik khas pegawai negeri (korpri-baru). Dan beberapa orang pengendara lagi saya jumpai mengenakan seragam batik korpri setelah pasangan itu berlalu. Sangat mudah dikenali jika pegawai negeri mengenakan seragam batik korpri, pasti ada acara istimewa,paling tidak upacara bendera.
Otak saya langsung berusaha mengingat dan mencari tanggal berapa hari ini? Oh iya...10 November, adalah tanggal dan bulan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk memperingati jasa-jasa para pahlawan yang berjuang melawan penjajah untuk memerdekakan negeri ini.
Berkaitan dengan tulisan saya sebelumnya tenta 17-an ala I Gusti Ngurah Rai, pikiran saya menjadi menerawang jauh kebelakang membayangkan cerita-cerita sejarah tentang patriotisme para pejuang yang berperang melawan penjajah, dan menerawang ke jaman saat ini, dimana orang-orang sudah tidak peduli dengan jasa-jasa para pejuang yang merebut kemerdekaan.
Saya bertanya dalam hati, mungkin pada masa-masa masih duduk di bangku sekolah dasar sampai menengah atas kita semua dipaksa untuk ikut upacara bendera dalam rangka memperingati hari Pahlawan. Akan tetapi setelah lewat masa-masa itu, apa yang saya perbuat untuk memperingati hari Pahlawan?, jawabannya; tidak ada upacara bendera dan bahkan menganggap tanggal 10 November sama seperti tanggal-tanggal yang lain, tidak lebih penting dari hari ulang tahun istri, kakak, adik, orang tua maupun handai taulan.
Sungguh menyedihkan...., hanya untuk mengenang saja, saya tidak mampu apalagi meneruskan perjuangan mereka....
Bagaimana dengan kawan-kawan yang lain? yang merasa sebagai warga negara Republik Indonesia? sudahkah anda memperingati dan mengenang jasa-jasa para pahlawan kita?
semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.
Senin, 09 November 2009
Minggu, 23 Agustus 2009
17-an ala I Gusti Ngurah Rai
Mungkin hanya setiap tanggal 17 Agustus, kita semua, seluruh rakyat dan bangsa Indonesia akan mengingat, mengenang serta mensyukuri atas pengorbanan dan jasa-jasa para pahlawannya yang telah berjuang merebut kemerdekaan negeri ini dari tangan penjajah.
Itu-pun sebatas upacara bendera dan acara-acara panjat pinang atau sejenisnya, yang diselenggarakan dari tingkat RT dan tidak mungkin hingga tingkat provinsi.
Lalu bagaimana dengan hari-hari atau tanggal-tanggal selain 17 Agustus? Apakah kita akan selalu mengingat dan berterimakasih atas jasa-jasa serta pengorbanan para pahlawan kemerdekaan? Apakah kita akan selalu bersyukur atas keberhasilan mereka yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi meraih kemerdekaan negeri ini?
Saya yakin tidak satupun diantara kita akan berusaha untuk mengingat dan terus mempertahankan semangat perjuangan para pahlawan yang mengusir penjajah.
Cobalah tengok tugu-tugu yang dibangun untuk memperingati suatu peristiwa penting yang pernah terjadi, atau patung-patung para pahlawan yang dibangun berdiri kokoh gagah berani, guna memperingati jasa-jasanya. Semua itu akan 'dihias' dan 'bersolek menjelang peringatan hari kemerdekan bangsa ini, lalu setelah hari itu berlalu, mereka akan 'kesepian' dan tidak ada yang mau menolehnya lagi.
Nama I Gusti Ngurah Rai sangatlah mendunia, siapa yang tidak tahu bandara internasional di Bali yang terletak di Tuban-Badung bernama Bandara internasional I Gusti Ngurah Rai. Akan tetapi ketenaran nama itu tidak serta merta memberikan ketenaran dan keindahan pada sosok patung I Gusti Ngurah Rai yang dibangun di jalan by pass Ngurah Rai Tuban-Badung.
Mungkin bagi orang yang pertama kali datang ke Bali dan kebetulan melintas di jalan tersebut tidak akan mengenal sosok patung tersebut? dikarenakan sudah tidak terawat, kumuh (telah dikelilingi pemukiman dengan bangunan semi permanen, dan rawa-rawa yang tidak tertata rapi).
Ketika saya masih kecil, senang rasanya bisa duduk santai di pelataran patung Gusti Ngurah Rai, diwaktu sore hari, apalagi pada saat hari-hari besar nasional, suasana terasa damai meskipun beberapa kali pesawat terbang melintas persis diatasnya. Sangat terasa suasana jikalau negeri ini telah merdeka. Kadangkala hayalan membawa saya ke masa-masa perang kemerdekaan dibawah komando beliau, meskipun hanya bisa memandang sosok I Gusti Ngurah Rai dalam wujud patung.
Tapi saat ini, siapa yang peduli? jangankan meneruskan semangat perjuangan beliau, yang peduli dengan sosok beliau yang berupa patung saja tidak ada.
Entahlah, kapan kita akan sadar untuk selalu menghormati para pahlawan, meskipun tidak hanya pada tanggal 17 Agustus. Paling tidak kita tetap peduli dan merawat patung atau tugu peringatan para pahlawan negeri Indonesia tercinta ini.
Apakah mungkin hal itu terjadi? mungkin saja, jika kita memulai dari diri sendiri untuk selalu mengobarkan semangat perjuangan dalam bidang apapun demi kemajuan negeri ini.
Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.
Itu-pun sebatas upacara bendera dan acara-acara panjat pinang atau sejenisnya, yang diselenggarakan dari tingkat RT dan tidak mungkin hingga tingkat provinsi.
Lalu bagaimana dengan hari-hari atau tanggal-tanggal selain 17 Agustus? Apakah kita akan selalu mengingat dan berterimakasih atas jasa-jasa serta pengorbanan para pahlawan kemerdekaan? Apakah kita akan selalu bersyukur atas keberhasilan mereka yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi meraih kemerdekaan negeri ini?
Saya yakin tidak satupun diantara kita akan berusaha untuk mengingat dan terus mempertahankan semangat perjuangan para pahlawan yang mengusir penjajah.
Cobalah tengok tugu-tugu yang dibangun untuk memperingati suatu peristiwa penting yang pernah terjadi, atau patung-patung para pahlawan yang dibangun berdiri kokoh gagah berani, guna memperingati jasa-jasanya. Semua itu akan 'dihias' dan 'bersolek menjelang peringatan hari kemerdekan bangsa ini, lalu setelah hari itu berlalu, mereka akan 'kesepian' dan tidak ada yang mau menolehnya lagi.
Nama I Gusti Ngurah Rai sangatlah mendunia, siapa yang tidak tahu bandara internasional di Bali yang terletak di Tuban-Badung bernama Bandara internasional I Gusti Ngurah Rai. Akan tetapi ketenaran nama itu tidak serta merta memberikan ketenaran dan keindahan pada sosok patung I Gusti Ngurah Rai yang dibangun di jalan by pass Ngurah Rai Tuban-Badung.
Mungkin bagi orang yang pertama kali datang ke Bali dan kebetulan melintas di jalan tersebut tidak akan mengenal sosok patung tersebut? dikarenakan sudah tidak terawat, kumuh (telah dikelilingi pemukiman dengan bangunan semi permanen, dan rawa-rawa yang tidak tertata rapi).
Ketika saya masih kecil, senang rasanya bisa duduk santai di pelataran patung Gusti Ngurah Rai, diwaktu sore hari, apalagi pada saat hari-hari besar nasional, suasana terasa damai meskipun beberapa kali pesawat terbang melintas persis diatasnya. Sangat terasa suasana jikalau negeri ini telah merdeka. Kadangkala hayalan membawa saya ke masa-masa perang kemerdekaan dibawah komando beliau, meskipun hanya bisa memandang sosok I Gusti Ngurah Rai dalam wujud patung.
Tapi saat ini, siapa yang peduli? jangankan meneruskan semangat perjuangan beliau, yang peduli dengan sosok beliau yang berupa patung saja tidak ada.
Entahlah, kapan kita akan sadar untuk selalu menghormati para pahlawan, meskipun tidak hanya pada tanggal 17 Agustus. Paling tidak kita tetap peduli dan merawat patung atau tugu peringatan para pahlawan negeri Indonesia tercinta ini.
Apakah mungkin hal itu terjadi? mungkin saja, jika kita memulai dari diri sendiri untuk selalu mengobarkan semangat perjuangan dalam bidang apapun demi kemajuan negeri ini.
Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.
Sabtu, 23 Mei 2009
Save Bali

Mengajarkan agama, adat dan budaya tidaklah sulit bagi orang Bali, karena memang lingkungannya telah mengkondisikan demikian serta adanya keyakinan dari para orang tua yang diwariskan ajaran-ajaran agama, adat dan budaya oleh para leluhur, untuk diajarkan serta diwariskan kembali kepada anak cucu generasi berikutnya.
Terlihat pada gambar, seorang kakek sedang memangku cucunya pada suatu upacara ke-agama-an. Sudah pasti sang kakek ingin mengajarkan kepada cucunya bagaimana menjalankan ritual agama Hindu Bali dan adat budaya setempat secara langsung. Kemudian sang cucu akan merespon dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan polos, kenapa begini-kenapa begitu? inilah tantangan bagi sang kakek maupun orang tua menjelaskan secara nalar dan logika apa yang sebenarnya sedang terjadi, sehingga tidak menyesatkan atau dapat merubah makna dari pelaksanaan sebuah upacara.
Simpel dan mudah, mungkin itu yang tergambar dari apa yang saya ilustrasikan diatas. Namun kenyataannya tidak demikian, ketika sang cucu beranjak remaja, akan banyak masukan serta pengetahuan yang didapat dari lingkungannya, baik itu dari lingkunagn pendidikan formal maupun informal yang tidak menutup kemungkinan bertentangan dengan apa yang telah dia pahami dan dapatkan dari sang kakek. Dengan demikian kondisinya menjadi tidak simpel dan mudah.
Kemudian apa yang harus kita lakukan agar dapat melestarikan budaya, adat istiadat dan sekaligus menjalankan agama Hindu serasi sejalan dengan adat dan budaya Bali? tidak ada jalan lain, selain menggali kembali nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya. Dan selanjutnya tugas kitalah sebagai generasi penerus untuk mengajarkan dan mewarisi nilai-nilai tersebut kepada anak dan cucu kita kelak. Entah dengan cara memvisualisasikan dalam bentuk rekaman gambar ataukah dengan cara menuangkannya dalam bentuk tulisan-tulisan, tergantung dari media yang tersedia dan yang kita pilih.
Save BALI. Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.
Lembah Hijau dan Lembah Gunung Beton

Hijaunya lembah dan segarnya udara pengunungan, tidak dapat digantikan dengan 'hijau dan segarnya udara' lembah gunung beton.
Minggu, 17 Mei 2009
Ke-Bali-an vs Ke-Hindu-an orang Bali
Yang mana patut dipertanyakan dijaman yang 'katanya' modern saat ini, apakah ke-Bali-an orang Bali atau ke-Hindu-an orang Bali?
Mungkin terlihat agak janggal jika saya yang dilahirkan di Bali dan mengatakan diri sebagai orang Bali dan menganut ajaran Hindu menjawab pertanyaan sederhana diatas dengan perkataan yang kurang kosa kata dan lidah kelu tanpa bisa berucap.
Tapi jika dilihat konteks pertanyaanya dan maksud serta arah pertanyaan tersebut dilontarkan untuk menyatakan opini, mungkin saya bisa berkilah dan berargumentasi.
Saat ini keduanya harus dipertahankan baik itu ke-Bali-an sebagai orang Bali yang 'wajib' menjaga tradisi dan warisan para leluhur, meskipun dihantam gelombang dan arus globalisasi, dan ke-Hindu-an orang Bali sebagai penganut ajaran Hindu, yang telah diajarkan oleh orang tua secara langsung dan para pemuka agama secara tidak langsung. Meskipun Hindu di Bali 'yang katanya' telah berasimilasi dengan adat dan budaya Bali.
Ke-Bali-an apa yang patut dijaga? saat ini-pun saya masih tinggal di luar Bali, bagaimana cara menjaganya?. Lalu ke-Hindu-an yang bagaimana harus dijaga?apakah Hindu-nya 'orang Bali' atau Hindu sesuai dengan aslinya dari tanah India?itulah pertanyaan berikutnya.
Argumentasi saya, demikian...Sebagai seorang manusia yang ditakdirkan lahir di Bali, saya merasa harus melestarikan dan mempertahankan adat dan budaya warisan para leluhur, seperti ikut melestarikan kesenian bali, meskipun bukan sebagai seniman akan tetapi paling tidak saya bisa menikmati keindahan tarian maupun musik tradisional Bali, yang sampai saat ini masih menggema. Kemudian tata cara bermasyarakat dan menjalin hubungan dengan sesama, sesuai dengan adat dan istiadat di tanah kelahiran, meskipun saat ini tinggal di perantauan, paling tidak saya masih punya rasa toleransi tinggi kepada sesama yang berbeda suku, agama dan ras.
Sebagai orang Bali yang menganut ajaran Hindu,saya berkewajiban tetap menjalankannya sesuai dengan adat dan tradisi di Bali,meskipun tidak sesempurna masyarakat bali yang tinggal di Bali, paling tidak saya dan istri masih ingat 'me-banten dan me-saiban'.
Bagaimana dengan saudara-saudaraku yang merasa sebagai orang Bali?mungkin argumentasi-nya berbeda-beda tergantung dari cara penafsiran atau analisa atas pertanyaan diatas.
Semoga dapat menjadikan sebuah renungan, agar kita tidak lupa pada 'asal-mulanya' kita ditakdirkan untuk hidup.
Semoga damai di hati,damai di dunia, damai selalu.
Mungkin terlihat agak janggal jika saya yang dilahirkan di Bali dan mengatakan diri sebagai orang Bali dan menganut ajaran Hindu menjawab pertanyaan sederhana diatas dengan perkataan yang kurang kosa kata dan lidah kelu tanpa bisa berucap.
Tapi jika dilihat konteks pertanyaanya dan maksud serta arah pertanyaan tersebut dilontarkan untuk menyatakan opini, mungkin saya bisa berkilah dan berargumentasi.
Saat ini keduanya harus dipertahankan baik itu ke-Bali-an sebagai orang Bali yang 'wajib' menjaga tradisi dan warisan para leluhur, meskipun dihantam gelombang dan arus globalisasi, dan ke-Hindu-an orang Bali sebagai penganut ajaran Hindu, yang telah diajarkan oleh orang tua secara langsung dan para pemuka agama secara tidak langsung. Meskipun Hindu di Bali 'yang katanya' telah berasimilasi dengan adat dan budaya Bali.
Ke-Bali-an apa yang patut dijaga? saat ini-pun saya masih tinggal di luar Bali, bagaimana cara menjaganya?. Lalu ke-Hindu-an yang bagaimana harus dijaga?apakah Hindu-nya 'orang Bali' atau Hindu sesuai dengan aslinya dari tanah India?itulah pertanyaan berikutnya.
Argumentasi saya, demikian...Sebagai seorang manusia yang ditakdirkan lahir di Bali, saya merasa harus melestarikan dan mempertahankan adat dan budaya warisan para leluhur, seperti ikut melestarikan kesenian bali, meskipun bukan sebagai seniman akan tetapi paling tidak saya bisa menikmati keindahan tarian maupun musik tradisional Bali, yang sampai saat ini masih menggema. Kemudian tata cara bermasyarakat dan menjalin hubungan dengan sesama, sesuai dengan adat dan istiadat di tanah kelahiran, meskipun saat ini tinggal di perantauan, paling tidak saya masih punya rasa toleransi tinggi kepada sesama yang berbeda suku, agama dan ras.
Sebagai orang Bali yang menganut ajaran Hindu,saya berkewajiban tetap menjalankannya sesuai dengan adat dan tradisi di Bali,meskipun tidak sesempurna masyarakat bali yang tinggal di Bali, paling tidak saya dan istri masih ingat 'me-banten dan me-saiban'.
Bagaimana dengan saudara-saudaraku yang merasa sebagai orang Bali?mungkin argumentasi-nya berbeda-beda tergantung dari cara penafsiran atau analisa atas pertanyaan diatas.
Semoga dapat menjadikan sebuah renungan, agar kita tidak lupa pada 'asal-mulanya' kita ditakdirkan untuk hidup.
Semoga damai di hati,damai di dunia, damai selalu.
Langgan:
Entri (Atom)
