Selasa, 26 Februari 2013

iPhone - menuntut orang gaptek jadi melek

Tempat kerja mewajibkan mempergunakan mempergunakan Smart Phone yang bernama iPhone (bukan promosi), saya menjadi terpaksa menanggalkan ego untuk tidak mengikuti perkembangan teknologi (terutama alat komunikasi), meskipun di-cap GAPTEK.
Meskipun sampai saat ini saya masih bertekad untuk tidak mempergunakan smart Phone dengan alasan fungsinya cuma buat SMS dan telepon doang, toh akhirnya runtuh juga oleh keterpaksaan.
Tapi tak apa-apalah asalkan masih bisa nyambung obrolan dengan bosa yang melek teknologi, plus tidak harus beli alias gratisss....

Awal pemakaian iPhone heboh, vendor dari iBox diundang untuk memberikan sekilas fitur-fitur dan kecanggihan dari iPhone...kehebohan pun terjadi, karena beberapa orang sudah lagi berminat untuk mengikuti perkembangan alat telekomunikasi, mungkin pengaruh umur yang beranjak tua dan kesibukan yang tidak memungkinkan mereka untuk mengutak-Atik telepon seluler. Seperti apa yang saya alami sendiri, setelah dibagikan unitnya kebingungan mendera- bagaimana caranya mengaktifkan alat ini?trus SIM card-nya dimasukkan sebelah mana? karena iPhone bersifat build-in alias baterai tidak bisa dilepas.
Setelah mendapatkan penjelasan panjang lebar dari teknisi iBox, tangan gatal yang tidak sabaran untuk segera mengutak-Atik segera menjalar...weleh, kumat lagi nih penyakit masa lalu yang tidak pernah puas kalau tidak beli dan coba gadget baru. Alhasil, setiap pulang kerja selalu coba-coba fitur canggihnya. Moga-moga tagihan pulsa tidak membengkak.

Sesungguhnya kalau kita mau mengikuti perkembangan entah teknologi ataupun informasi, tidak dipengaruhi oleh usia, asalkan ada kemauan dan kesempatan. Tidak salah jika smart Phone bisa membuat orang melek teknologi.

Senin, 21 November 2011

Manajemen Waktu

Setiap mahkluk hidup maupun mati di dunia ini diberikan waktu yang sama dalam menjalankan hidupnya ataupun lelakunya sebagai mahluk mati sehari-hari yaitu 24 jam.

Semuanya sangat tergantung dari masing-masing mahluk hidup dalam memanfaatkan waktu tersebut untuk mencapai tujuan hidupnya di muka bumi ini.

Tumbuhan, binatang dan mahluk hidup lainnya mempergunakan waktu hanya untuk bertahan hidup dan berkembang biak sesuai dengan kodratnya. Mahluk mati, akan mempergunakan waktunya untuk diam dan bergerak sesuai dengan kehendak Sang Pencipta

Manusia sebagai mahluk hidup yang paling tinggi derajatnya, dianugrahi akal dan budi pakerti harus pandai mengatur waktu yang kadang-kadang terasa singkat, jika sedang larut dalam kesibukan atau hanyut dalam kesenangan, namun kadang-kadang terasa lambat ketida sedang tidak ada aktifitas bermanfaat, seperti menunggu, bengong dan sebagainya.

Saya menggambarkan pembagiaan waktu 24jam dalam sehari menjadi 3 kegiatan utama. Kita ambil dari aktivitas yang paling nikmat dilakukan yakni;

  • 8 jam untuk istirahat, menurut pakar kesehatan, istirahat (tidur) yang ideal adalah 8 jam sehari. Jadi bagi orang-orang atau anak-anak dalam masa pertumbuhan sangat dibutuhkan waktu 8 jam tersebut. Sebuah cerita yang pernah saya dengar, seorang pengusaha yang boleh dibilang konglomerat hanya tidur 4 jam dalam sehari....luar biasa. Dan beliau sampai saat ini masih segar bugar dan tidak terlihat capek atau mengantuk, kebetulan saya pernah bertemu dan berjabat tangan dengan beliu (meskipun cuma beberapa menit..hehehehe). Sedangkan saya yang karyawan rendahan tidurnya 8,5 jam (pagi hari malas bangun..hehehe), bahkan kadang-kadang pas istirahat siang sempat menghilang 30 menit..padahal tidak dalam masa pertumbuhan...wiiihhh...apakah saya sudah dikategorikan pemalas?..mmmmm...perlu improvement.
  • 8 jam berikutnya untuk bekerja, sesuai dengan aturan pemerintah (bagi karyawan atau pegawai), waktu kerja adalah maksimal 8 jam. Kalau hal ini dijalankan dengan sungguh-sungguh, tidak mustahil kerja lembur menjadi 0 jam. Namun apa yang terjadi? jam kerja 8 jam plus jam lembur 4-5 jam bahkan lebih tidak cukup untuk menyelesaikan tugas rutin, bahkan merasa waktu sehari tidak cukup untuk menyelesaikannya. Kenapa? coba tanya pada diri sendiri (bagi yang merasa menjadi karyawan atau pegawai). Berbeda dengan pengusaha, mereka tidak mengenal jam kerja 8 jam. Kakak saya contohnya, dia membuka warung pagi-pagi dan menutupnya larut malam, itu artinya tidak ada istilah 8 jam kerja, yang penting dagangan laku dan pelanggan setia berdatangan setiap saat. Bagaimana dengan anda? apakah jam kerja dalam sehari 8 jam atau bahkan lebih tanpa lembur?
  • 8 jam sisanya adalah untuk lain-lain, ini bisa berarti bagi karyawan, waktu 8 jam lain-lain ini dipergunakan untuk melakukan kegiatan diluar aktivitas pokok, bahkan biasanya dipergunakan untuk berkumpul dengan keluarga, teman-teman geng motor ataupun hepi-hepi. Bagi yang tinggal di luar Jakarta dan berkerja di dalam kota Jakarta, separuh waktu 8 jam lain-lain ini dipergunakan untuk berjibaku dengan kemacetan lalu lintas menuju rumah. Sedangkan bagi mereka yang tinggal di daerah yang tidak dilanda kemacetan parah, mungkin waktu 8 jam ini bisa dipergunakan penuh untuk kegiatan yang lebih bermanfaat. Namun bagi orang-orang yang kreatif dan pekerja keras, waktu 8 jam lain-lain akan dipergunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang produktif. Mereka berfikir kapan lagi ada waktu atau kesempatan selain hari ini? karena hari esok tantangannya akan berbeda. Saya ingin mengubah diri saya seperti apa yang mereka lakukan....semoga bisa mulai detik ini.
Uraian pembagian waktu yang saya sampaikan di atas secara ringan dan garing, merupakan gambaran gamblang bagaimana seharusnya kita mengatur dan memanfaatkan waktu 24jam sehari dengan baik dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita. Semoga membantu mengubah perilaku indispliner diri saya sendiri dan anda - yang merasa kekurangan waktu.

Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai Selalu 

Kamis, 17 November 2011

Mata Merah



Setelah sekian tahun tidak terserang penyakit yang satu ini, akhirnya 3 hari belakangan ini saya terjangkit juga. Jadi terkenang waktu masa kecil, ketika terserang mata merah, bangun tidur mata tidak bisa melek alias dempet karena banyak kotoran mata yang mengering.
Namun sekarang tisu basah selalu berada disisi tempat tidur dan selalu terjaga dari tidur untuk sekedar menyeka mata, agar pada saat pagi menjelang, mata langsung bisa melek.

Setelah periksa dan konsultasi ke dokter mata, ternyata penyebabnya adalah virus...dan obatnya cuma satu, yakni istirahat di tempat. Tapi tetap saja dijejali vitamin dan obat tetes mata yang paling saya benci. Sangat risih jika sesuatu masuk ke pupil mata..entah disengaja maupun tidak disengaja.

Penasaran dengan virus yang telah berani membuat mata saya menjadi "karatan", um google pun saya acak-acak...dan inilah kutipan beberapa artikel yang diberitahukan oleh um google;

Virus sebagai biang kerok;
Infeksi virus menyebabkan mata meradang, sejumlah virus-virus yang berbeda dapat dituduh atas terjadinya. Gejala-gejala mata merah yang disebabkan virus biasanya dihubungkan lebih banyak dengan suatu pengeluaran cairan yang tidak berwarna hijau atau kuning.

Bakteri yang mencari lingkungan baru;
Bakteri yang paling umum menyebabkan mata merah adalah staphylococci, pneumococci, dan streptococci. Gejala-gejala mata merah yang disebabkan bakteri,sakit/nyeri mata, bengkak,kemerahan, dan suatu jumlah kotoran yang sedang sampai besar, biasanya berwarna kuning atau kehijauan.

Bagaimana bisa terjangkit atau tertular?
Kemungkinan terjangkit karena penderita sudah membawa atau tertular virus tersebut melalui udara, debu ataupun tertular dari orang yang telah menderita mata merah.
Menurut dokter ahli, penularannya dapat pula melalui air mata yang sudah mengadung virus penyebab peradangan. Maka tidak mustahil jika dilingkungan sekitar ada yang menderita mata merah akan menularkan ke yang lainnya.

Jadi kesimpulannya adalah jaga kondisi badan agar tetap fit, jangan lupa selalu cuci tangan dengan sabun anti septic dan mulai hidup sehat.

Semoga bermanfaat. Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai Selalu.

Senin, 03 Oktober 2011

Buah tangan dari BALI - 2


Coba perhatikan ilustrasi gambar di sebelah ini, tampak seorang perempuan memakai helm pada saat melakukan transaksi di sebuah restaurant cepat saji. Hal ini mungkin sudah biasa terjadi di Bali - Denpasar khususnya - seseorang tidak akan melepas helm - yang lazim digunakan pada saat berkendara di jalanan - ketika mereka sedang melakukan kegiatan yang bersifat sementara atau sebentar.

Sepintas memang tidak ada yang salah dan aneh, coba pikirkan lebih dalam dari berbagai sisi, rupanya helm tersebut salah ruang dan waktu. Jaman sudah berubah, semua orang mengejar waktu, melepas helm saja tidak sempat meskipun hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari 15 menit - kecuali pengait helm rusak.

Dari sisi etika, sangat tidak etis jika kita menggunakan perlengkapan yang tidak diperuntukan pada saat dan tempat yang sesuai.

Mungkin ini yang dinamakan "play save"...? misal: helm yang dipakai harga-nya mahal, jadi takut dicuri. Atau pemakainya butuh perhatian dari lingkungan sekitar?

Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.