Label

Minggu, 23 Desember 2007

Semalam di Pura Parahyangan Agung Jagat Kartta

Mengisi waktu liburan sebelum Natal 2007, saya berniat untuk ‘tangkil’ ke Pura Parahyangan Agung Jagat Kartta yang terletak di lereng Gunung Salak Bogor, yang konon merupakan tempat pertapaan Prabu Siliwangi-raja Hindu pasundan.

Bersama seorang teman yang pernah menjadi aktivis kampus di Bogor, kami berangkat jam 18.30 dari kota Bekasi. Doa dalam hati selalu kami panjatkan memohon agar cuaca cerah....(maklum musim hujan dan kami menuju kota ‘hujan’ Bogor) dan Astungkarah selama perjalanan cuaca cerah memayungi kami. Teman saya berkata mungkin Tuhan berkenan kita ‘tangkil’ ke Pura Agung Jagat Kartta.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2.5 jam, kami sampai di pelataran parkir Pura Parahyangan Agung Jagat Kartta. Tampak beberapa kendaraan pribadi dan bus pariwisata yang mengangkut rombongan umat Hindu dari Bali.

Kembali kami memanjatkan rasa syukur Astungkarah....cuaca sangat cerah,sehingga suasana pegunungan yang begitu sejuk bisa kami nikmati sambil melihat sekeliling nun jauh di bawah sana tampak kerlap-kerlip lampu kota Bogor. Suasana malam itu mengingatkan saya ketika masih tinggal di kota Malang dilihat dari daerah Batu.

Sebelum masuk ke areal Pura, sekali lagi teman saya berkata Tuhan berkenan atas kehadiran kami di tempat suci tersebut. Hal ini membuat saya penasaran, dan bertanya kepadanya, ternyata alasannya cukup mengesankan saya, beberapa kali ia ‘tangkil’ belum pernah menemui cuaca cerah seperti malam itu....Astungkarah.

Jika mengunjungi suatu tempat untuk pertama kalinya, saya selalu berusaha melatih naluri bisnis untuk mencium peluang usaha apa yang bisa ditangkap...dari penciuman saya tertangkap beberapa peluang; dari yang butuh modal besar sampai modal kecil, diantaranya bisnis tour spiritual atau yang lazim disebut tirthayatra, karena banyak umat Hindu yang datang dari berbagai daerah. Usaha pembiakan tanaman hias atau agrobisnis. Disamping itu usaha berdagang perlengkapan persembahyangan juga bagus. Teman saya menceritakan memang ada perkebunan di sekitar sana terutama sayur mayur.

Karena semangat ingin ‘tangkil’ kehadapanNya, saya tidak mempedulikan udara yang semula terasa sejuk menjadi semakin dingin dan diperparah lagi kami tidak membawa baju hangat.

Cukup puas menikmati suasana malam dan sedikit membangkitkan kenangan lama, kami melangkah menaiki anak tangga menuju Madyaning Mandala sambil berdiskusi, mengomentari dan mendengarkan cerita teman saya sewaktu Pura mulai dibangun hingga seperti sekarang ini.

Tampak beberapa umat telah selesai melakukan persembahyangan dan beristirahat di sekitar Balai Gong, mengingatkan saya waktu sering melakukan perjalanan spritual sewaktu masih SMA yang suka beristirahat di balai Gong.

Tampak dari Madyaning Mandala tiga buah Kori Agung dengan arsitektur bangunan Sunda, menunjukkan jikalau Pura tersebut dibangun diatas tanah pasundan. Kami melakukan ritual penyucian diri dengan percikan tirta penglukat sebelum memasuki Utamaning Mandala.

Melewati Kori Agung suasana hening dan suci tersirat di hati saya. Beberapa umat masih terlihat melakukan persembahyangan dipimpin oleh Pemangku. Kami beristirahat sebentar di balai pengiasan sambil mengatur pernafasan setelah menaiki anak tangga yang lumayan banyak dan tinggi. Saya memberikan komentar tentang 2 bangunan suci yaitu Petilasan Prabu Siliwangi ber-arsitektur sunda berdampingan dengan bangunan Padmasana ber-arsitektur Bali. Saya berbisik kepada teman saya...kenapa Pura yang ada di luar Bali selalu dibuat ber-arsitektur Bali?? setiap pura yang ada di Jawa yang pernah saya kunjungi selalu memiliki bangunan ber-arsitektur Bali. Apakah tujuannya untuk menarik umat Hindu Bali?? atau karena yang membangun sebagaian besar umat Hindu yang berasal dari Bali? meskipun sudah lama menetap di luar Bali, teman saya menjawab seadanya ‘mungkin tidak ada referensi arsitektur sunda dan ahli bangunannya dari Bali sehingga lebih gampang membuat yang ber-arsitektur Bali’.

Tidak apalah jawaban teman saya cukup untuk dijadikan bahan perenungan juga, akan tetapi pertanyaan saya masih belum terjawab dengan pas.......

Pukul 24.00, kami mulai melakukan persembahyangan dan memanjatkan doa kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, bersyukur atas semua anugrah yang telah diberikan sepanjang tahun 2007 serta memohon segala harapan di tahun 2008 dikabulkan.

Udara dingin yang semula menggigit terasa hangat kembali meskipun hanya sesaat ketika saya memanjatkan doa Gayatri Mantram.

Selesai bersembahyang, kami kembali duduk di balai pengiasan. Rombongan umat berdatangan kembali, dan terlihat seorang tukang foto menjajakan jasanya, sambil mempersiapkan peralatannya saya menghampiri dan memulai percakapan, katanya sudah hampir setahun mencari rejeki di Pura Agung Jagat Kartta. Terlihat dia sangat menikmati pekerjaan itu meskipun harus begadang melawan hawa dingin dan tidak jarang kehujanan.’Saya selalu bersyukur berapapun imbalan jasa yang didapat dari pekerjaan ini’ katanya memberikan jawaban tanpa ada pertanyaan dari saya.

Bersyukur, itulah kata yang selalu teringat dalam benak saya. Karena kata syukurlah yang membuat saya bersemangat datang ke tempat suci yang terletak di lereng Gunung Salak itu.

Waktu beranjak pagi, jam menunjukkan angka 3. Kabut tebal mulai turun dan hujan rintik-rintik membasahi rumput segar di halaman pura. Perut terasa lapar....teman saya mengajak turun ke areal parkir untuk mencari warung yang menjual makanan.

Kami menanyakan makanan dan minuman yang disediakan, ibu penjaga warung adalah penduduk lereng gunung yang ternyata bukan umat Hindu. Saya bersyukur kehadapanNya karena dengan keberadaan Pura disana dapat memberikan penghidupan dan rejeki pada penduduk sekitarnya.

Astungkarah...Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai selalu.



0 Ucapan:

Poskan Komentar