Label

Minggu, 30 Desember 2007

Katak dalam Tempurung....open your eyes - open your heart.

‘Seperti katak dalam tempurung’ merupakan istilah/sindiran yang diperuntukan bagi orang yang tidak memiliki pandangan, pengetahuan terhadap keadaan sekitar maupun masa depan (ataupun hal lainnya) karena terhalang oleh batasan-batasan yang berada disekitarnya, berupa batasan pengetahuan, lingkungan dan banyak batasan lainnya.
Saya tidak tahu dari mana asal mula istilah ‘Katak dalam Tempurung’, mungkin diwaktu lalu ada yang pernah melakukan eksperimen menaruh katak di bawah tempurung kemudian mengamati tingkah lakunya, atau mungkin hanya ungkapan yang tanpa disengaja untuk memperhalus bahasa/menyindir. Entahlah.....yang jelas istilah ini sudah meluas dan jamak dipergunakan masyarakat.

Terus....kenapa dibahas? toh hanya istilah.....

‘Tempurung’ (bahasa lainnya batok) bisa diartikan batasan-batasan, dari yang tersempit, seperti; kepribadian, pikiran, pengetahuan, wawasan, dan sebagainya sampai dengan batasan terluas, seperti; lingkungan sosial (keluarga, masyarakat sosial, tempat/lingkungan kerja, suku, agama, ras, dan sebagainya).

‘Katak’ termasuk binatang amphibi yang bisa hidup didua habitat (darat dan air), dapat diartikan sebagai binatang yang memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan binatang lain. Katak bisa melompat, berenang atau menyelam dan mungkin ada spesies-nya yang bisa terbang (karena lompatannya jauh). Semua kelebihan itu untuk kelangsungan hidup meraka.
Sama halnya dengan Manusia sebagai mahluk yang memiliki kelebihan berupa daya nalar dan pikiran, juga dipergunakan untuk melangsungkan kehidupan.
Nah...coba bayangkan bagaimana jikalau katak ditempatkan di bawah tempurung yang sama selama berhari-hari atau berbulan-bulan.....pasti mati,....karena ruang gerak mereka sempit, tidak bisa melompat tinggi atau melompat jauh, ia mengira disanalah lingkungan mereka sejak lahir, hidup dan kemudian mati.
Demikian halnya dengan manusia yang terkukung dengan batasan-batasan yang ada pada pribadi maupun lingkungannya selama bertahun-tahun....pastilah ‘mati’ jiwa-nya, daya nalar serta pengetahuannya. Mirip dengan katak dibawah tempurung, bukan..?
Manusia dianugrahkan akal pikiran, sehingga mampu melepaskan diri dari ‘tempurung-tempurung’ yang mungkin dibuat oleh diri kita sendiri ataupun oleh lingkungan. Namun sayangnya ada yang merasa nyaman dengan ‘tempurung’ yang ditempati atau dimiliki sehingga muncul ego yang berlebihan. Akibatnya mereka memaksakan kehendak. Walaupun ada ‘tempurung’ yang lebih nyaman dan pantas dibanggakan.

Yang lebih dahsyat lagi, ada yang mampu membuat (bukan mencipta,hanya-Tuhan yang mampu menciptakan) ‘tempurung’ sebagai tempat bagi ‘katak-katak’ yang lain dan sudah tentu pembuatnya akan menjadi pemimpin atau pemilik yang kemudian diwariskan kepada ‘katak’ keturunannya. Ada juga ‘katak’ yang mengakui tempurung temuannya tanpa mau tahu dari mana asal tempurung tersebut. Dan banyak tingkah laku ‘katak-katak’ lain tentang tempurung-nya.
Demikian halnya pembuat tulisan ini hanya mampu menulis tentang ‘tempurung-nya’ yang kemudian dituangkan pada ‘tempurung’ lain yang bernama blog.....

Semoga kita bisa menjadi ‘katak’ yang mempunyai kemampuan untuk melompat dari satu tempurung ke tempurung yang lain untuk mendapat dan memberikan pencerahan kepada ‘katak’ yang lain, agar tidak terbelenggu dalam satu ‘tempurung’ sampai mati. Atau paling tidak menjadi ‘katak’ yang mampu melihat, jikalau ada ‘tempurung’ yang lainnya sehingga mampu membuat tempurung yang lebih baik dan nyaman.

Selamat melompat yang tinggi dan sejauh-jauhnya.....open your eyes - open your heart.
Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai Selalu.

Coretan Akhir Tahun Masehi 2007

Pergantian tahun Masehi....,setiap tahun dirayakan tetapi tidak pernah sekalipun seumur hidup saya (tidak termasuk pada waktu balita) merayakannya seperti orang-orang pada umumnya. Setiap malam menjelang pergantian hari di penghujung tahun Masehi, selalu muncul pertanyaan di benak saya, kenapa harus merayakan pergantian Tahun? Sejarah dan maknanya pun tidak saya ketahui (....maklum berada dalam tempurung yang agak terbelakang....), akibatnya saya hanya menonton siaran acara pergantian tahun yang meriah hanya lewat TV di rumah....itupun kadang-kadang ketiduran.

Sejarah Tahun Masehi........
Kecanggihan teknologi membuat kita dengan cepat memperoleh informasi dan saya-pun dengan mudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang setiap akhir tahun Masehi selalu muncul dibenak saya, kenapa kita merayakan tahun baru masehi...? sebenarnya tahun baru masehi asal muasalnya dari mana?.
secuil informasi yang saya dapat....
Kata Masehi merujuk kepada tarikh tahun menurut kalender gregorian. Tahun Masehi dianggap sebagai tahun kelahiran Nabi Isa Al-Masih karena itu perhitungan tahun ini dinamakan Masihiyah atau Yesus dari Nazaret. Kebalikannya, istilah Sebelum Masehi (SM) merujuk pada masa sebelum tahun tersebut. Sebagian besar orang non-Kristen biasanya mempergunakan singkatan M dan SM ini tanpa merujuk kepada konotasi Kristen tersebut. Jadi menurut sejarahnya peringatan tahun masehi dilakukan oleh umat Kristen di seluruh Dunia.
Yang saya ketahui (diperingati di Indonesia) ada beberapa perhitungan tahun yang berbeda-beda angka tahunnya maupun perhitungan harinya, seperti Tahun Hijriah diperingati oleh umat Islam yang perhitungannya mulai 622 M, Tahun Çaka yang dimulai 78 M diperingati umat Hindu, China memperingati Imlek. Pergantian tahun tersebut diperingati dengan adat kebiasaan masing-masing.
Akan tetapi pergantian tahun Masehi diperingati dan dirayakan oleh hampir seluruh umat manusia dimuka bumi.

Kenapa kita ikut merayakan...?padahal sudah punya pergantian tahun masing-masing.....?
Apakah untuk keseragaman?atau karena kita sudah terbiasa dengan perhitungan tahun Masehi selama peradaban manusia ada di muka bumi?..atau....?
Entahlah...mungkin ada pembaca tulisan ini, yang sudi berkomentar dan memberikan pencerahan kepada saya.
Cukup menarik dijadikan coretan akhir tahun Masehi. Menurut saya pribadi...sah-sah saja kita ikut merayakan pergantian tahun masehi...sepanjang perayaan tersebut bertujuan menjaga kedamaian umat manusia dan keseimbangan alam.
Nah, ini dia coretan akhir tahun pribadi saya (jadi ikut-ikutan merayakannya....walaupun dalam tulisan he.he.he.he...), belajar menghargai hasil kerja keras maupun lunak dalam segala hal, tidak menyepelekan masalah sekecil apapun masalah itu, dan lebih banyak bersyukur atas anugrah Tuhan Yang Maha Agung.
Target tahun depan berusaha menjadi ‘pengamat tempurung katak’ yang mempunyai wawasan luas dan berguna bagi orang lain.
Pertanyaannya adalah kenapa memilih menjadi pengamat? kenapa tidak membuat atau mencari tempurung buat katak-katak yang lain.....?
Jawabannya....adalah...menjadi pengamat paling tidak bisa memberikan masukan kepada para pemimpin ataupun pemilik tempurung untuk segera membenahi tempurungnya agar bisa memberikan tempat yang layak kepada katak-katak yang ada di bawahnya. Karena kebanyakan pemimpin ataupun pemiliknya sibuk dengan berbagai kegiatan agar tempurungnya menjadi lebih menarik dan bagus dibandingkan tempurung yang lain atau bahkan sibuk dengan dirinya sendiri. (baca tentang tempurung katak)
Semoga tulisan ini bermanfaat. Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai Selalu

Kamis, 27 Desember 2007

Paid Bangkung..? Why not...??

‘Ngidih olas de kanti paid bangkung’ (Minta tolong jangan sampai ketarik oleh induk babi betina), yang mengandung arti dan pesan; sebagai seorang lelaki Bali (baca; beragama Hindu) jangan sampai terpengaruh atau mengkuti keyakinan/agama pasangannya (pacar atau istri). Begitulah kira-kira istilah atau pesan yang sering didengar atau diucapkan oleh kalangan anak muda Bali yang berada di perantauan. Oleh mereka biasanya dipergunakan sebagai bahan guyonan ataupun peringatan kepada teman, sahabat atau siapapun yang berasal dari Bali.

Sebelum populer di luar Bali, istilah ini sudah berlaku bagi seorang laki-laki yang ‘pekidih’ atau ’nyentana’ (laki-laki yang tinggal di rumah sang istri dan bertindak sebagai ahli waris). Atau sebagai bahan celaan bagi laki-laki yang terlalu nurut kepada pasangan atau istrinya.
Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin banyaknya masyarakat Bali yang merantau ke luar Bali, peruntukan istilah ‘paid bangkung’ juga mengalami pergeseran dan ditujukan kepada orang atau laki-laki Bali yang menikah kemudian pindah keyakinan mengikuti keyakinan sang istri.

‘paid bangkung’...? adakah yang salah..?
Saya tergelitik untuk ber-opini mengenai istilah ‘paid bangkung’, setelah membaca selembar kertas yang tercecer di warung Bali areal Pura Rawamangun Jakarta, yang membahas dengan gaya bahasa anak muda...dan saya yakin mereka pastilah mahasiswa pelajar yang masih kuat memegang prinsip dan idealisme.

Tulisan tersebut mengulas tidaklah pantas atau tidak lazim jika seorang laki-laki Bali (baca; beragama Hindu) untuk pindah keyakinan mengikuti keyakinan pasangan hidupnya. Didukung pula pendapat dari pemuka agama ataupun pemuka masyarakat untuk menguatkan dan meyakinkan, mengapa ‘paid bangkung’ tidak lazim atau bahkan terlarang.
Dalam tulisan tersebut seolah-olah me-nabu-kan istilah ‘paid bangkung’ dengan perspektif sebatas hubungan sepasang manusia, entah berpacaran ataupun dalam ikatan perkawinan. Bahkan diwanti-wanti jika berpacaran beda agama harus kuat ke-dharma-annya. Jika dilanggar, maka secara moral dalam kehidupan bermasyarakat, mereka yang melanggar akan tersisih atau terbuang.

Apanya yang salah...?? Kenapa mereka tersisih atau terbuang..??

Jika konteks-nya mengenai kehidupan beragama Hindu ataupun mempertahankan keyakinan, adat-kebiasaan dan budaya Hindu Bali, saya sangat setuju. Karena kita dilahirkan sebagai manusia Bali yang beragama Hindu, wajib mempertahankan keyakinan kita karena itu adalah Dharma.
Sejak dalam kandungan ibu sampai dengan meninggal dunia manusia Hindu di-upacara-i secara Hindu-yang sudah menyatu dengan adat kebiasaan masyarakat Bali.
Sewaktu masih di-sekolah dasar saya diajarkan; bahwa kita lahir kedunia ini membawa hutang, yaitu hutang kepada Orang Tua yang melahirkan kita, hutang kepada Guru yang mengajarkan kita ilmu pengetahuan, hutang kepada Rsi atau pinandita yang menerangi jiwa kita dengan ajaran Dharma serta hutang kepada Sang Pencipta yang menciptakan alam semesta. Hutang-hutang ini wajib dilunasi jika seseorang telah beranjak remaja. Jika tidak dibayar dan dilunasi maka hidupnya di dunia akan sengsara dan leluhurnya tidak akan bisa kembali kepada Sang Pencipta.

Dengan ajaran seperti diatas, wajarlah jika seorang laki-laki Bali yang merupakan ‘purusa’ atau kepala keluarga dalam rumah tangganya tidak lazim untuk mengikuti keyakinan sang istri. Karena sebagai ‘purusa’ laki-laki Bali wajib memimpin keluarganya untuk membayar hutang-hutang tersebut dan juga sebagai wujud bakti kepada para leluhur.

Ditegaskan kembali, tidaklah lazim jika laki-laki Bali ‘paid bangkung’. Meskipun secara ajaran agama Hindu tidak ada aturan, larangan, ataupun hukuman untuk pindah keyakinan. Hanya saja mereka tidak bisa melunasi hutang-hutang yang dibawa sedari lahir ke dunia.
Bagaimana jikalau perempuan Bali yang pindah keyakinan....?
Hal ini dianggap sah-sah saja atau lazim...makanya tidak ada istilah ‘paid kaung’(babi jantan). Karena menurut adat-kebiasaan masyarakat Bali, perempuan merupakan ‘pradana’ yang wajib berbakti kepada sang suami selaku ‘purusa’. Oleh karena itu jika laki-laki Bali yang menikah dan tinggal di rumah sang istri (nyentana), maka secara ‘niskala’ sang istri-lah yang merupakan ‘purusa’ atau sebagai kepala keluarga.
Kembali pada konteks mempertahankan keyakinan, saya sangat setuju dan mendukung jika perempuan Bali mampu menarik pasangan atau suaminya untuk ikut menjalankan ajaran Hindu dan berbakti kepada leluhur-nya.
Salut....untuk perempuan Bali yang sudah menjalani dan mengalaminya.
Jika banyak perempuan Hindu yang mampu berbuat seperti hal diatas (‘maid kaung’), maka istilah paid bangkung bergeser menjadi ‘Paid bangkung’..?? Why not...??
Istilah ‘paid bangkung’ bisa jadi hanya sekedar ungkapan untuk bahan guyonan, atau bahkan bisa menjadi pesan yang sarat makna untuk tetap teguh pada keyakinan. Tergantung dari sisi mana kita melihat.
Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menjadi bahan renungan bagi semua pihak. Damai di hati, Damai di Dunia, Damai selalu

Minggu, 23 Desember 2007

Semalam di Pura Parahyangan Agung Jagat Kartta

Mengisi waktu liburan sebelum Natal 2007, saya berniat untuk ‘tangkil’ ke Pura Parahyangan Agung Jagat Kartta yang terletak di lereng Gunung Salak Bogor, yang konon merupakan tempat pertapaan Prabu Siliwangi-raja Hindu pasundan.

Bersama seorang teman yang pernah menjadi aktivis kampus di Bogor, kami berangkat jam 18.30 dari kota Bekasi. Doa dalam hati selalu kami panjatkan memohon agar cuaca cerah....(maklum musim hujan dan kami menuju kota ‘hujan’ Bogor) dan Astungkarah selama perjalanan cuaca cerah memayungi kami. Teman saya berkata mungkin Tuhan berkenan kita ‘tangkil’ ke Pura Agung Jagat Kartta.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2.5 jam, kami sampai di pelataran parkir Pura Parahyangan Agung Jagat Kartta. Tampak beberapa kendaraan pribadi dan bus pariwisata yang mengangkut rombongan umat Hindu dari Bali.

Kembali kami memanjatkan rasa syukur Astungkarah....cuaca sangat cerah,sehingga suasana pegunungan yang begitu sejuk bisa kami nikmati sambil melihat sekeliling nun jauh di bawah sana tampak kerlap-kerlip lampu kota Bogor. Suasana malam itu mengingatkan saya ketika masih tinggal di kota Malang dilihat dari daerah Batu.

Sebelum masuk ke areal Pura, sekali lagi teman saya berkata Tuhan berkenan atas kehadiran kami di tempat suci tersebut. Hal ini membuat saya penasaran, dan bertanya kepadanya, ternyata alasannya cukup mengesankan saya, beberapa kali ia ‘tangkil’ belum pernah menemui cuaca cerah seperti malam itu....Astungkarah.

Jika mengunjungi suatu tempat untuk pertama kalinya, saya selalu berusaha melatih naluri bisnis untuk mencium peluang usaha apa yang bisa ditangkap...dari penciuman saya tertangkap beberapa peluang; dari yang butuh modal besar sampai modal kecil, diantaranya bisnis tour spiritual atau yang lazim disebut tirthayatra, karena banyak umat Hindu yang datang dari berbagai daerah. Usaha pembiakan tanaman hias atau agrobisnis. Disamping itu usaha berdagang perlengkapan persembahyangan juga bagus. Teman saya menceritakan memang ada perkebunan di sekitar sana terutama sayur mayur.

Karena semangat ingin ‘tangkil’ kehadapanNya, saya tidak mempedulikan udara yang semula terasa sejuk menjadi semakin dingin dan diperparah lagi kami tidak membawa baju hangat.

Cukup puas menikmati suasana malam dan sedikit membangkitkan kenangan lama, kami melangkah menaiki anak tangga menuju Madyaning Mandala sambil berdiskusi, mengomentari dan mendengarkan cerita teman saya sewaktu Pura mulai dibangun hingga seperti sekarang ini.

Tampak beberapa umat telah selesai melakukan persembahyangan dan beristirahat di sekitar Balai Gong, mengingatkan saya waktu sering melakukan perjalanan spritual sewaktu masih SMA yang suka beristirahat di balai Gong.

Tampak dari Madyaning Mandala tiga buah Kori Agung dengan arsitektur bangunan Sunda, menunjukkan jikalau Pura tersebut dibangun diatas tanah pasundan. Kami melakukan ritual penyucian diri dengan percikan tirta penglukat sebelum memasuki Utamaning Mandala.

Melewati Kori Agung suasana hening dan suci tersirat di hati saya. Beberapa umat masih terlihat melakukan persembahyangan dipimpin oleh Pemangku. Kami beristirahat sebentar di balai pengiasan sambil mengatur pernafasan setelah menaiki anak tangga yang lumayan banyak dan tinggi. Saya memberikan komentar tentang 2 bangunan suci yaitu Petilasan Prabu Siliwangi ber-arsitektur sunda berdampingan dengan bangunan Padmasana ber-arsitektur Bali. Saya berbisik kepada teman saya...kenapa Pura yang ada di luar Bali selalu dibuat ber-arsitektur Bali?? setiap pura yang ada di Jawa yang pernah saya kunjungi selalu memiliki bangunan ber-arsitektur Bali. Apakah tujuannya untuk menarik umat Hindu Bali?? atau karena yang membangun sebagaian besar umat Hindu yang berasal dari Bali? meskipun sudah lama menetap di luar Bali, teman saya menjawab seadanya ‘mungkin tidak ada referensi arsitektur sunda dan ahli bangunannya dari Bali sehingga lebih gampang membuat yang ber-arsitektur Bali’.

Tidak apalah jawaban teman saya cukup untuk dijadikan bahan perenungan juga, akan tetapi pertanyaan saya masih belum terjawab dengan pas.......

Pukul 24.00, kami mulai melakukan persembahyangan dan memanjatkan doa kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, bersyukur atas semua anugrah yang telah diberikan sepanjang tahun 2007 serta memohon segala harapan di tahun 2008 dikabulkan.

Udara dingin yang semula menggigit terasa hangat kembali meskipun hanya sesaat ketika saya memanjatkan doa Gayatri Mantram.

Selesai bersembahyang, kami kembali duduk di balai pengiasan. Rombongan umat berdatangan kembali, dan terlihat seorang tukang foto menjajakan jasanya, sambil mempersiapkan peralatannya saya menghampiri dan memulai percakapan, katanya sudah hampir setahun mencari rejeki di Pura Agung Jagat Kartta. Terlihat dia sangat menikmati pekerjaan itu meskipun harus begadang melawan hawa dingin dan tidak jarang kehujanan.’Saya selalu bersyukur berapapun imbalan jasa yang didapat dari pekerjaan ini’ katanya memberikan jawaban tanpa ada pertanyaan dari saya.

Bersyukur, itulah kata yang selalu teringat dalam benak saya. Karena kata syukurlah yang membuat saya bersemangat datang ke tempat suci yang terletak di lereng Gunung Salak itu.

Waktu beranjak pagi, jam menunjukkan angka 3. Kabut tebal mulai turun dan hujan rintik-rintik membasahi rumput segar di halaman pura. Perut terasa lapar....teman saya mengajak turun ke areal parkir untuk mencari warung yang menjual makanan.

Kami menanyakan makanan dan minuman yang disediakan, ibu penjaga warung adalah penduduk lereng gunung yang ternyata bukan umat Hindu. Saya bersyukur kehadapanNya karena dengan keberadaan Pura disana dapat memberikan penghidupan dan rejeki pada penduduk sekitarnya.

Astungkarah...Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai selalu.



Astungkarah.....

Setelah sekian lama terpendam dalam benak dan hati sanubari yang paling dalam.....akhirnya terwujud juga keinginan untuk mempunyai sebuah blog pribadi meskipun sebelumnya telah membuat blog buat jualan.

Bukan ikut-ikutan trend nge-blog atau gaya-gayaan punya blog, tetapi belajar mencatat atau menulis (kegiatan yang kurang saya minati tetapi berusaha mencintai) apa yang di-Lihat, Dengar, dan Perbuat dalam menjalankan kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun spiritual.

Tulisan-tulisan dalam blog ini merupakan ungkapan dari perbuatan, perkataan dan pikiran (Kayika,Wacika, Manacika), tentang segala hal dalam hidup saya.....
Bertujuan; berusaha mengamati, mengkritisi, mengupas, dan berbuat yang lebih baik untuk BALI dan kehidupan sosial di lingkungan tempat tinggal saya saat ini.

Selamat membaca tulisan-tulisan yang ada dalam blog ini dan juga ikut mengkritisi, memberikan komentar, semoga bermanfaat untuk kita semua....Astungkarah. Damai di hati, Damai di Dunia, Damai selalu.