Label

Jumat, 18 Januari 2008

Belajar hal kecil dari bawahan

Pagi ini, seperti biasa saya masuk kerja dengan beberapa rencana kerja yang ada di kepala dan ada juga beberapa agenda yang telah terekam di telepon seluler yang sewaktu-waktu siap berdering untuk mengingatkan. Ditambah lagi dengan jurus-jurus untuk antisipasi, jikalau sewaktu-waktu di-‘omeli’ big boss.
Setiba di tempat kerja tampak suasana seperti biasanya, banyak teman sejawat yang mondar-mandir baru berdatangan dan ada juga yang bersiap-siap pulang untuk pergantian shift.
Seperti hari-hari kerja biasanya saya selalu berusaha meng-update informasi dan mem-follow up kejadian selama tidak berada di lokasi kerja.
Setelah mendapatkan informasi yang cukup, sambil berkeliling gedung saya melakukan inspeksi terhadap kondisi dan keadaan, memperhatikan kondisi truk-truk yang sudah siap loading dan melakukan aktivitas pengiriman, menyapa para sopir yang sedang menyiapkan kendaraannya, menyapa kolega yang datang agak terlambat hingga menyapa tukang sapu halaman yang sudah mulai mengayunkan sapunya membersihkan area di sekitar gedung, serta menyapa siapa saja yang saya jumpai.
Sambil membuat catatan kecil tentang hal-hal yang perlu dibenahi, saya memperhatikan seorang office boy yang sehari-hari menyiapkan minuman buat saya dan juga staf yang lain, dia tampak asyik menunggu tukang bubur menyiapkan pesanannya dari balik pagar. Saya menghampiri dan menyapanya ‘hai..sedang apa kamu disini?’ kelihatan agak kaget dia menoleh kearah saya.
Membeli makanan ataupun minuman dari tempat yang sudah ditentukan merupakan suatu pelanggaran. Dan sayalah yang membuat aturan itu. Dia menjawab dengan sedikit grogi, ‘Maaf pak, saya sedang membeli jajanan, buat bapak dan juga teman-teman di kantor’ jawabnya dengan polos.
Agak kaget juga mendengarnya, karena hampir setiap hari saya keliling area gedung tidak pernah menemui dia melakukan hal itu, jam berapa dia melakukannya?dimana saja? apakah selalu di tempat ini?, dan memang benar setiap pagi dia selalu menyuguhkan kudapan buat saya dan teman-teman yang lain.
Karena merasa bersalah memakan sajiannya tiap pagi tanpa bertanya darimana asal usulnya dan bagaimana dia mendapatkannya, saya tidak mengajukan pertanyaan lanjutan, hanya menyuruh dia cepat kembali ke tempat kerjanya serta berpesan lain kali jangan melakukannya lagi.
Dalam hati saya bergumam, ‘bodoh sekali aku kenapa selama ini tidak pernah mengetahui dan bertanya tentang hal ini?, berarti secara tidak langsung aku telah melanggar aturan yang aku buat dan kampanye-kan dengan keras dan lantang’. Menyebalkan tapi begitulah kenyataannya.
Dari kejadian pagi itu, satu pelajaran yang saya petik adalah belajar hal-hal kecil dari bawahan atau kalangan yang dianggap ‘kelas rendah’ sebagai refleksi diri, karena mereka hampir setiap hari melakukannya dan mungkin telah menjadi bagian dari hidup mereka.
Karena setiap hari kita berpikir dan melakukan hal-hal yang ‘besar’ dan berpandangan jauh ‘ke depan’, sehingga lupa dengan hal-hal kecil dan kadang-kadang kita anggap sepele akan tetapi dapat merubah sesuatu menjadi besar.
Sederhanakanlah cara berpikir, tapi jangan sederhanakan cara pandang.

Semoga tulisan ini berguna bagi kita semua. Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai Selalu.

0 Ucapan:

Poskan Komentar