Label

Minggu, 13 Januari 2008

Mentor YIN-YANG


Sangat menarik topik yang disajikan oleh 2 mentor yang sudah berpengalaman dalam bidang tulis-menulis serta telah menerbitkan beberapa judul buku, dan sudah siap terbit beberapa judul lagi.
Apa hubungannya dengan judul tulisan ini..? mentor YIN-YANG, apakah diajarkan ilmu Kung-Fu...? atau jurus-jurus bela diri dengan pena..? atau sesuatu yang berkaitan dengan tahun baru Imlek...?
Ceritanya, tanggal 12 Januari 2008 (bukan 11 Januari seperti judul lagunya GIGI), milist PROFEC mengadakan workshop sehari dengan tema ‘Menjadi Penulis Buku dengan Cepat’. Workshop tersebut dipandu oleh 2 mentor yakni Bp. Johanes Arifin Wijaya dan Bp. Dodi Mawardi.
Dari ‘tempurung katak’ (baca; sudut pandang/batasan) saya, kedua mentor tersebut sangat pintar memainkan irama jalannya workshop, sehingga suasana selalu menggairahkan. Ketika Pak Dodi memberikan motivasi berdasarkan pengalaman beliu, Pak Johanes menambahkan dengan teori yang agak jauh dari prakteknya. Demikian pula sebaliknya, ketika Bp. Johanes memberikan sharing pengalaman bagaimana beliau menulis pertamakali yang seolah-olah mengalir seperti air, Pak Dodi sedikit membantah dengan memberikan teori praktis dan terstruktur sepertinya gampang dipraktekkan.
Lengkap dan saling melengkapi, ibarat pemain tengah sebuah tim sepak bola, selalu bergerak bertukar posisi saling bahu membahu untuk mencetak banyak GOAL.
GOAL-nya adalah menemukan dan memotivasi para peserta yang berminat di bidang tulis-menulis untuk bisa mengikuti jejak mereka sebagai penulis buku yang handal, tidak pernah berhenti berkarya serta berbagi kepada orang yang membutuhkan karya-karya dalam bentuk tulisan. Sungguh mulia.
Pelajaran yang saya dapat; jika diumpamakan belajar berselancar beliau berdualah pelatih yang pas, murid-muridnya diajarkan teknik menggunakan papan selancar yang benar, kemudian diajarkan melihat gelombang/ombak yang baik untuk di-selancari, kapan saatnya berenang dan kapan waktunya untuk berdiri diatas papan selancar. Tidak hanya itu saja, beliu juga mengingatkan agar berhati-hati dengan kemungkinan adanya bahaya.
Dari perumpamaan diatas, timbul pertanyaan; apakah beliau tidak takut untuk tersaingi oleh murid-muridnya kelak?siapa tahu dari beberapa muridnya bisa melebihi kemampuan beliu.
Moga-moga pertanyaan diatas hanya angin sepoi-sepoi yang tidak menimbulkan rasa kantuk dan segera berlalu, sehingga beliu berdua tidak pernah berhenti untuk berbagi. Thank you ‘my master’, we need your support.
Semoga tulisan ini berguna bagi kita semua. Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai Selalu.

0 Ucapan:

Poskan Komentar