Label

Minggu, 13 Januari 2008

Otonan atau Wetonan - Ulang Tahunnya Orang Bali

Kamis, 10 Januari 2008 bertepatan dengan Wrespati Julungwangi, Lintang Salah Ukur menurut kalender Caka, merupakan hari lahir saya. Akan tetapi menurut akte kelahiran dari catatan sipil, tanggal 10 Januari 2008 bukan merupakan hari/tanggal lahir saya, mengapa...? jelas bukan, karena kalendernya berbeda dan juga sudut pandang atau cara berhitungnya berbeda pula.
Akan tetapi yang tertulis pada akte kelahiran saya adalah catatan tanggal tahun masehi, bukan tanggal dan tahun Caka. Kenapa ya...?saya belum tanya masalah ini kepada Bapak dan Ibu saya....:)
Di Bali (daerah tertentu), setiap enam bulan sekali umat Hindu selalu memperingati hari lahir seseorang (umumnya laki-laki) dengan dibuatnya ‘punjung otonan’(sesajen)
Otonan atau Wetonan mengandung makna penghormatan kepada leluhur dan ‘atman’ sebagai ‘Sang Dumadi’ yang telah lahir kembali ke dunia. Umat Hindu percaya dengan adanya ‘Reinkarnasi’ yaitu lahirnya kembali ‘atman’ atau ‘roh suci’ ke dunia. Juga merupakan bentuk rasa ‘peng-Astungkarah’ sujud syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan anugrah yang telah diberikan kepada orang yang diperingati hari lahirnya.
Semasa kanak-kanak, saya sangat gembira jika hari ini adalah ‘otonan’ dan tahu akan di-otonin, apalagi melihat Ibu yang sibuk melakukan persiapan membuat sesaji (mungkin perasaannya sama seperti anak-anak jaman sekarang dibuatkan pesta ulang tahun). Jiwa terasa tenang dan riang, serta muncul semangat baru seolah-olah terlahir kembali. Pada saat upacara berlangsung saya selalu berdoa dan berharap agar naik kelas dengan nilai bagus dan masuk sekolah negeri (maklum, agar orang tua tidak mengeluarkan banyak biaya).
Ketika beranjak remaja saya merantau ke luar Bali, ‘otonan’ tidak pernah lagi dirayakan seperti ketika masih tinggal bersama keluarga besar di Bali. Akan tetapi tradisi itu tidak hilang dalam jiwa saya, meskipun diperingati dengan cara sederhana yaitu melakukan ‘tapa-brata’ puasa dan bersembahyang di Pura, tidak mengurangi makna peringatan otonan. Bahkan terasa lebih mantap karena jiwa saya terasa lebih tenang dan mandiri jika sewaktu-waktu diambil oleh pemiliknya.
Sama halnya pada masa kanak-kanak, semangat dalam menjalani kehidupan dan untuk memperbaiki kualitas hubungan dengan sesama dan hubungan kepada Tuhan, berkobar kembali.
Saya sering menasehati keponakan-keponakan yang lahir dimasa kini, agar tidak menuntut orang tua mereka untuk merayakan ulang tahun, karena hari lahir kita telah diperingati dengan ‘Otonan’.
Dan mereka selalu bertanya kenapa..? Jawabannya hanya satu, kita ditakdirkan lahir sebagai orang Bali yang beragama Hindu wajib menjalankan ‘Swa-Dharmaning Agama’ serta melestarikan warisan leluhur.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai Selalu.

1 Ucapan:

  1. ulasan yg menarik sekali
    terutama pada bagian akhir
    "Jawabannya hanya satu, kita ditakdirkan lahir sebagai orang Bali yang beragama Hindu wajib menjalankan ‘Swa-Dharmaning Agama’ serta melestarikan warisan leluhur."

    jangan pernah jadi kacang yg lupa kulitnya

    BalasHapus