
Melasti merupakan rangkaian upacara yang dilakukan umat Hindu dalam rangka menyambut pergantian tahun caka atau Nyepi. Ada saatnya juga dilakukan dalam rangka piodalan di Pura besar (jagat atau desa).
Pelaksanaan melasti bertujuan untuk melakukan penyucian (pembersihan) Buana Agung (Bumi/jagat) dan Buana Alit (manusia) sebagai ciptaan Tuhan, sebelum memasuki tahun baru caka.
Melasti dilaksanakan pada sumber mata air atau muara air (laut dan danau). Umat Hindu mempercayai air merupakan zat yang mampu memberikan kelangsungan hidup bagi segala mahluk hidup yang ada di muka bumi. Oleh karena itu setiap persembahyangan selalu diperciki air suci yang diambil dari sumber air suci di pegunungan.
Pada jaman dahulu ritual melasti sebelum Nyepi merupakan momen yang sangat meriah dan unik. Meriah karena hampir seluruh umat hindu di Bali (biasanya dikoordanasi oleh desa Adat) melakukan perjalanan berjalan kaki bersama-sama menuju pantai atau danau yang jaraknya puluhan kilometer dengan menjunjung Pratima (perlambang Tuhan) diiringi dengan gamelan baleganjur. Unik, jika diamati dari segi semangat berkorban tulus ikhlas dan berbakti kepada Tuhan YME.
Di jaman modern saat ini, pelaksanaan melasti tetap dilakukan seperti masa-masa yang lalu. Tidak lagi dilakukan dengan berjalan kaki, akan tetapi dilakukan dengan mengendarai kendaraan (truk, mobil dsb).
Tidak ada yang salah dengan hal ini, karena tidak mengubah makna dan tujuan dari melasti. Justru yang menjadi permasalahan adalah sifat manja dari manusia yang tidak mau berkorban secara tulus untuk melakukan jalan kaki dengan berbagai macam alasan pribadi.
Memang dapat menghemat waktu, tenaga serta hal-hal lainnya yang dianggap hemat. Akan tetapi ada permasalahan lain yang diakibatkan, seperti kemacetan, polusi udara dan lain sebagainya yang justru dapat menghilangkan ke-khusukan upacara tersebut.
Mungkin alangkah baiknya kita melakukan bakti kehadapan-Nya dengan cara berkorban secara tulus ikhlas, sekecil apapun pengorbanan itu. Toh beliau telah melimpahkan segala anugrah dan kenikmatan sepanjang tahun.
Semoga opini ini dapat menggugah rasa berkorban kita kepada Nya, secara tulus ikhlas. Damai di hati, damai di dunia, damai selalu.
0 Ucapan:
Poskan Komentar