Apa yang ada di benak anda ketika membaca tulisan 'KURANGI KECEPATAN SEKARANG' seperti pada gambar di sebelah ini?. Sebagai orang yang bisa membaca atau melek aksara latin (bukan tuna netra), tentu kita bisa membaca tulisan tersebut dan mungkin langsung mengerti maksud dari tulisan tersebut.Akan tetapi pada kenyataannya tidak semua orang yang bisa membaca, mau mengerti maksud dari tulisan tersebut, bahkan malah bersikap acuh tak acuh...seolah-olah rambu-rambu atau tanda yang bertujuan untuk memberikan peringatan kepada setiap orang yang melintasinya atau pengguna jalan raya, hanya menganggap sebagai hiasan jalan raya belaka, bukan sebagai tanda peringatan.
Yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah kita sudah mengerti, memahami serta mematuhi apa yang tertulis pada rambu-rambu di jalan raya??
Saya yakin dan mungkin semua setuju jawabannya adalah tidak semua mau mengerti, memahami serta mematuhi-nya meskipun rambu-rambu tersebut dipasang demi keselamatan kita semua.
Itu artinya sama dengan anak kecil yang baru bisa membaca. Mereka baru mempunyai kemampuan sebatas membaca dan belum mampu memahami ataupun mengerti maksud dari apa yang mereka lihat dan baca.
Jika kita merasa sebagai orang yang telah mampu membaca dan memahami maksud dan tujuan dari sebuah tulisan, sudah pasti negara kita akan dipenuhi oleh jiwa-jiwa disiplin.
Siapa yang akan disalahkan, jika terjadi kecelakaan gara-gara tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas?apakah pengguna jalan yang tidak disiplin atau yang tidak memahami peraturan?atau yang memasang rambu-rambu?
Kita tidak bisa mempersalahkan orang yang melanggar karena tidak bisa membaca, karena memang mereka tidak bisa membaca tulisan apalagi memahaminya.
Yang sepatutnya kita persalahkan adalah orang yang berpendidikan tinggi, pintar membaca, cepat memberikan respon, serta memahami maksud dari sebuah tulisan atau rambu-rambu, akan tetapi tetap melanggar rambu-rambu tersebut serta pura-pura tidak bisa melihat adanya rambu tersebut. Dan juga orang yang iseng memasang rambu-rambu yang bukan peruntukannya.
Jadi menurut saya, membaca tidak cukup dengan penglihatan akan tetapi harus disertai pula dengan hati.
Demikian juga dalam melintasi jalan kehidupan yang dipenuhi oleh 'rambu-rambu' atau norma-norma, seharusnya dibaca dengan hati yang damai, sehingga menimbulkan rasa nyaman dan damai.
Semoga tulisan ini dapat dijadikan sebagai renungan dan introspeksi diri.
Damai di hati, damai di dunia, damai di selalu.
0 Ucapan:
Poskan Komentar