Label

Sabtu, 31 Mei 2008

Tajen alias Sabung Ayam

Selama saya tinggal di rantau, ada sebuah pertanyaan yang dilontarkan kepada saya; ‘Kenapa orang Bali, yang bekerja kok perempuannya. Sedangkan yang laki-laki asyik sabung ayam?’.
Pertanyaan ini kadang-kadang membuat panas hati, karena saya merasa sebagai seorang laki-laki Bali, jauh-jauh merantau meninggalkan Bali untuk menuntut ilmu dan mencari pekerjaan secara benar, bukan bersenang-senang dan malas-malasan.

Ketika suasana hati lagi tidak nyaman, saya menjawab sekenanya;’itu pertanda Bali sudah makmur, sehingga laki-laki tidak usah kerja’. Sering juga saya jawab seperti ini;’ itu ‘kan hanya potret kenikmatan, buktinya saya datang kesini untuk belajar dan bekerja’.

Nah...ketika suasana hati sedang nyaman, saya menjelaskan secara panjang kali lebar kali tinggi....

Sabung Ayam atau dalam bahasa bali disebut Tajen, jika dilihat dari berbagai sisi dapat menjelaskan atau memberikan perspektif yang positif.
Tajen merupakan sebuah ritual dalam rangkaian upacara keagamaan, lazim disebut ‘tabuh rah’ merupakan wujud persembahan kepada Bhuta Kala agar tidak mengganggu kelancaran upacara.
Biasanya ‘tabuh rah’ dilakukan dengan menyabung ayam jago, yang disimbulkan mewakili sifat-sifat manusia (angkuh,emosional,sombong), akan tetapi ayam jago yang diadu tidak sampai mati, hanya butuh meneteskan darah ke tanah tempat upacara berlangsung.

Entah sejak kapan ritual ‘tabuh rah’ diselewengkan menjadi arena perjudian oleh orang-orang yang sudah kerasukan Bhuta Kala. Sehingga memberikan pandangan yang negatif tentang kebiasaan laki-laki Bali, yang sesungguhnya merupakan kepala keluarga, tulang punggung perekonomian keluarga, pekerja keras sesuai dengan profesinya.

Sedangkan sisi lainnya adalah hiburan yang mengandung nilai seni, ibaratnya menonton pertandingan tinju (manusia diadu dengan manusia). Tidak sembarangan orang bisa menikmati tajen, ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi oleh para petaruh (bebotoh). Orang yang biasa me-tajen, seolah-olah mempunyai panggilan jiwa agar bisa menikmati dan ikut bermain. Seorang ‘bebotoh’ harus mempunyai naluri untuk memilih ayam jago yang bisa menang dalam setiap pertarungan. Bahkan ada beberapa mitos dalam tajen, misalnya jika ada wanita hamil melintas di sekitar arena dipercaya membawa kesialan kepada bebotoh, sehingga si bebotoh akan mengalami kekalahan.

Laki-laki Bali bukannya tidak bekerja, demikian juga tidak hanya perempuan Bali saja yang mencari nafkah. Manusia Bali memiliki ‘Swadarmaning’(kewajiban) masing-masing dalam bermasyarakat maupun beragama.
Jika ada yang melalaikan kewajibannya, berarti itu adalah salah....tergantung dari bagaimana masing-masing orang menunaikan kewajibannya.

Semoga tulisan ini dapat memberikan penerangan kepada kawan-kawan yang baru melihat dari satu sisi saja. Damai di hati, damai di dunia, damai selalu.

0 Ucapan:

Poskan Komentar