Label

Senin, 28 Juli 2008

Kerasukan atau Kesurupan

Kerasukan atau kesurupan atau dalam bahasa inggris ‘trance’, umum terjadi di Bali, apalagi pada saat dilaksanakannya upacara-upacara keagamaan. Bahkan sering terjadi kerasukan masal di sebuah tempat upacara merupakan hal yang sangat lumrah.

Kesurupan, dalam bahasa Bali disebut ‘kerauhan’, yang artinya kedatangan, dapat dikategorikan dalam beberapa sebab, yang pertama kerauhan yang disebabkan oleh kehadiran roh-roh para leluhur yang telah disucikan sebagai saksi pelaksanaan sebuah upacara. Kedua, kerauhan yang disebabkan oleh kehadiran para dewa-dewi dari kahyangan yang diyakini telah turun ke dunia untuk merestui pelaksanaan sebuah upacara keagamaan. Ketiga, kerauhan yang disebabkan oleh kehadiran roh dari orang yang akan di ‘aben’ atau dikremasi. Keempat adalah kerauhan yang disebabkan oleh kehadiran roh-roh jahat (butha kalla) yang ingin merusak atau menganggu pelaksanaan upacara. Dan yang kelima kerauhan yang direka atau dibuat-buat untuk sebuah pertunjukan seni sebagai hiburan.

Sebagai orang yang hidup di jaman sekarang (boleh dibilang sebagai manusia modern), saya melihat fenomena kerauhan sebagai suatu kejadian yang kurang masuk logika dan daya nalar, akan tetapi hal ini nyata adanya sehingga mempercayainya sebagai bagian dari kehidupan berbudaya dan beragama.
Mengapa demikian?, karena sejak berusia belia hingga saat ini, fenomena seperti ini sering saya alami entah ketika berada di tanah kelahiran, maupun pada saat mengikuti upacara keagamaan di tanah rantau.

Saya kurang mempercayainya karena hal semacam ini tidak mungkin terjadi, mana mungkin ada orang yang telah meninggal dunia rohnya masih berkeliaran di sekitar kita?atau dewa-dewi bisa merasuki tubuh manusia atau apakah sesungguhnya memang ada dunia setelah kematian?dimana nantinya setiap orang yang telah meninggal rohnya akan menuju kesana?

Kemudian, mempercayainya karena secara kasat mata hal itu terjadi. Yang sering mengalami adalah ibu kandung pada setiap pelaksanaan upacara keagamaan, dan anehnya yang mengalaminya kok selalu ibu saya padahal beliau bukan termasuk orang yang disucikan. Tidak sembarang orang bisa mengalami kerauhan.
Saya sendiri ingin sekali mengalaminya sebagai sebuah pembuktian dan pengalaman spiritual, akan tetapi sampai saat ini tidak pernah terwujud…..

Apakah kejadian itu beliau karang?setiap saya tanya setelah beliau sadar kembali, pasti jawabanya tidak tahu dan bahkan malah balik bertanya,’ibu ada dimana?’atau ‘kenapa ibu menangis?’. Itu artinya, pada saat kerauhan, beliau dalam kondisi tidak sadar akan tetapi bisa diajak berkomunikasi oleh para pemuka agama ataupun orang-orang yang telah disucikan.

Kejadian yang paling membuat saya menjadi semakin penasaran dengan fenomena kerahuan, ketika upacara pe-ngaben-an nenek (ibu-nya bapak) beberapa bulan yang lalu. Sesaat sebelum upacara pembakaran jenasah di area kuburan, ibu saya menangis sejadi-jadinya sambil memanggil-manggil nama kakak tertua saya, meminta diberikan kopi dan kapur sirih, katanya sebagai bekal diperjalanan. Akan tetapi yang datang memberikan malah bapak saya, yang merupakan anak tertua dari nenek, namun apa yang terjadi? Ibu seketika berhenti menangis dan malah memarahi bapak, seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.
Sambil berkacak pinggang beliau berkata ’Ibu tidak mau kamu yang memberikan, karena kamu sering memarahi ibu ketika masih hidup, ibu hanya mau diberi oleh cucuku tersayang’ katanya, persis seperti suara nenek ketika berantem dengan bapak pada waktu saya masih belia. Pada waktu itu memang nenek selalu meminta perlindungan kepada kakak tertua yang sudah bisa memberikan perhatian pada orang yang sudah sepuh.

Aneh tapi nyata, pada saat kejadian secara fisik saya melihat ibu saya sendiri, sedangkan tutur kata, gaya bicara dan gerak-geriknya persis seperti nenek saya yang tinggal jasadnya saja.
Kenapa bisa begitu? padahal secara sadar dalam kehidupan sehari-hari, ibu tidak pernah sekalipun berani memarahi bapak yang beliau hormati.
Sehari setelah upacara berlangsung, ketika saya hendak pamit kepada ibu untuk berangkat ke bandara, saya menyempatkan kembali bertanya tentang kejadian yang dialaminya. Jawaban beliau singkat dan tetap misterius, waktu itu pandangannya gelap seperti orang tidur dan ketika tersadar telah dipegangi oleh kedua kakak saya.

Mungkin inilah salah satu keunikan masyarakat Bali secara turun temurun disamping keunikan-keunikan lainnya, yang tidak bisa dijelaskan secara logika dan cukup untuk dipercayai saja.

Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.

0 Ucapan:

Poskan Komentar