Label

Sabtu, 06 Desember 2008

Membedah Perut Bumi

Perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, telah mampu merubah bumi yang kita tempati sampai saat ini.
Pada masa sebelum revolusi industri pada abad ke 18, wajah bumi dipenuhi oleh berbagai macam ‘bedak’,’lipstick’,‘eye shadow’ yang bersifat alami berupa hutan yang lebat menghijau, udara pagi yang sejuk dan kadang-kadang ‘nakal’ dingin menggelitik masuk sampai ke tulang, nyanyian burung-burung yang riang bermain, dan gunung-gunung yang tampak membiru menjulang tinggi dengan senyum yang ramah disaput kabut dan gemericik arus sungai yang berkelok-kelok, berlomba menuju lautan lepas.
Kecantikannya seseolah-olah memancarkan sinar kedamaian, membuat penikmatnya merasa kagum, selalu ingin mengenangnya dalam keabadian serta diakhiri dengan rasa syukur yang tulus kepada pemilik wajah itu.
Saat itu manusia menikmati apa yang diberikan oleh-Nya secara alamiah dan naluriah tanpa ada keserakahan untuk menguasai dan memiliki semuanya.

Masa-masa kecantikan dan keindahan itu telah berlalu seiring dengan tumbuhnya ‘jerawat’, ‘fleks hitam’, ‘bisul’ dan bahkan ‘tumor’. Hal ini disebabkan oleh pemakaian secara paksa kosmetik buatan hasil rekayasa dan kecerdikan manusia yang ingin melihat kecatikan wajah bumi sesuai dengan kemauan dan keinginannya.
Coba kita perhatikan disekeliling kita, adakah sesuatu hal bersifat murni alami? mungkin jawabannya tidak ada, kalaupun jawabannya masih ada, mungkin ia merupakan sisa-sisa ke-alami-an yang belum terjamah. Dan tidak mungkin sebentar lagi akan sirna semuanya.
Tidak hanya wajah bumi yang ‘dipercantik’ secara paksa dengan produk buatan, bahkan perutnya pun ‘dibedah’, mungkin agar kelihatan lebih langsing dan memuluskan kulitnya yang dianggap sudah keriput.

Sudah tuakah bumi kita, sehingga perlu dibedah agar tetap awet muda?.
Sudah tidak cantikkah wajah bumi kita, sehingga harus dibedaki dengan tumbuh-tumbuhan dari beton?
Sudah tidak elokkah liukan sungai, sehingga kita harus membendung, menimbun, dan mencemari dengan limbah buatan?

Memang bumi kita sudah tua, bahkan melebihi umur manusia yang paling tua sekalipun.
Memang wajahnya tidak cantik lagi menurut orang yang tidak bisa menikmati abadinya keindahan, sehingga dipercantik dengan ‘komestik’ buatan.
Memang air sungai tidak bisa mengalir sebebas dahulu kala.

Akan tetapi tidak semestinya kita merawat (kalau tidak boleh dikatakan merusak) dengan paksa demi kepentingan sekelompok orang yang bangga dengan keserakahannya.
Seharusnya kita merawat keindahannya secara alami dengan akal, kecerdikan dan kepandaian, tanpa disertai keserakahan.

Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.

nice shot by phone cell camera

Bulan Desember lagi...

Wah....tidak terasa bulan Desember telah datang kembali...artinya kita harus bersiap-siap memulai tahun baru dan menjalani lembaran hidup yang baru lagi, mengganti kalender sebagai penanda waktu lagi, membuat resolusi untuk motivasi hidup lagi, memperbaharui komitmen kepada pasangan hidup dan orang-orang yang kita cintai lagi...dan banyak lagi-lagi yang lain....

Tidak terasa pula sudah 6 bulan saya tidak membuka dan meng-update blog ini, melampiaskan uneg-uneg yang kadang-kadang bikin eneg, mengendap dan menguap di benak begitu saja.
Moga-moga ditahun 2009, saya masih bisa menulis, paling tidak dalam blog ini dan melanjutkan cita-cita menulis buku yang sudah tertunda selama 6 bulan pula....Astungkarah.


Haaahhhh....ternyata hidup di Jakarta memang penuh tantangan, hambatan, peluang, suka-duka, haru biru...dan sebagainya...tapi life must go on...and be creative...

damai di-hati, damai di-dunia, damai selalu