Label

Minggu, 17 Mei 2009

Ke-Bali-an vs Ke-Hindu-an orang Bali

Yang mana patut dipertanyakan dijaman yang 'katanya' modern saat ini, apakah ke-Bali-an orang Bali atau ke-Hindu-an orang Bali?
Mungkin terlihat agak janggal jika saya yang dilahirkan di Bali dan mengatakan diri sebagai orang Bali dan menganut ajaran Hindu menjawab pertanyaan sederhana diatas dengan perkataan yang kurang kosa kata dan lidah kelu tanpa bisa berucap.

Tapi jika dilihat konteks pertanyaanya dan maksud serta arah pertanyaan tersebut dilontarkan untuk menyatakan opini, mungkin saya bisa berkilah dan berargumentasi.
Saat ini keduanya harus dipertahankan baik itu ke-Bali-an sebagai orang Bali yang 'wajib' menjaga tradisi dan warisan para leluhur, meskipun dihantam gelombang dan arus globalisasi, dan ke-Hindu-an orang Bali sebagai penganut ajaran Hindu, yang telah diajarkan oleh orang tua secara langsung dan para pemuka agama secara tidak langsung. Meskipun Hindu di Bali 'yang katanya' telah berasimilasi dengan adat dan budaya Bali.

Ke-Bali-an apa yang patut dijaga? saat ini-pun saya masih tinggal di luar Bali, bagaimana cara menjaganya?. Lalu ke-Hindu-an yang bagaimana harus dijaga?apakah Hindu-nya 'orang Bali' atau Hindu sesuai dengan aslinya dari tanah India?itulah pertanyaan berikutnya.

Argumentasi saya, demikian...Sebagai seorang manusia yang ditakdirkan lahir di Bali, saya merasa harus melestarikan dan mempertahankan adat dan budaya warisan para leluhur, seperti ikut melestarikan kesenian bali, meskipun bukan sebagai seniman akan tetapi paling tidak saya bisa menikmati keindahan tarian maupun musik tradisional Bali, yang sampai saat ini masih menggema. Kemudian tata cara bermasyarakat dan menjalin hubungan dengan sesama, sesuai dengan adat dan istiadat di tanah kelahiran, meskipun saat ini tinggal di perantauan, paling tidak saya masih punya rasa toleransi tinggi kepada sesama yang berbeda suku, agama dan ras.
Sebagai orang Bali yang menganut ajaran Hindu,saya berkewajiban tetap menjalankannya sesuai dengan adat dan tradisi di Bali,meskipun tidak sesempurna masyarakat bali yang tinggal di Bali, paling tidak saya dan istri masih ingat 'me-banten dan me-saiban'.

Bagaimana dengan saudara-saudaraku yang merasa sebagai orang Bali?mungkin argumentasi-nya berbeda-beda tergantung dari cara penafsiran atau analisa atas pertanyaan diatas.

Semoga dapat menjadikan sebuah renungan, agar kita tidak lupa pada 'asal-mulanya' kita ditakdirkan untuk hidup.
Semoga damai di hati,damai di dunia, damai selalu.

1 Ucapan:

  1. Senang rasanya melihat tulisan bli nyoman kembali, saya sanga setuju bli, kita tidak perlu mempertanyakan apa yang tersirat dalam judul yang bli ungkapkan, karena semuanya adalah kembali kepada diri masing-masing, apakah kita punya rasa empati atau teposaliro dengan orang yang kita anggap "orang lain" bagi kita sebagai oranga "hindu..., katena sebenarnya konteks kita bermasyarakat di dunia ini adalah bagaimana kita memandang sesama tanpa adanya perbedaan. Saya melihat bahwa bli nyoman bisa beranggapan begini, karena bli telah merasakan hidup di luar Bali yang notabene sangat berbeda, baik dari segi keseragaman dan budaya yang bli hadapi. Salut dengan pandangan hidup yang bli anut, mudah-mudahan keterbukaan ini menjadikan bli lebih bijaksana lagi dan jauh lebih bijaksana dari yang sudah ada, yang asti harus ditularkan pada orang-orang terdekat bli, untuk dapat memiliki visi dan cara pandang yang sama dengan bli...
    semoga damai dihati, dibumi damai selalu

    BalasHapus