Label

Sabtu, 23 Mei 2009

Save Bali


Mengajarkan agama, adat dan budaya tidaklah sulit bagi orang Bali, karena memang lingkungannya telah mengkondisikan demikian serta adanya keyakinan dari para orang tua yang diwariskan ajaran-ajaran agama, adat dan budaya oleh para leluhur, untuk diajarkan serta diwariskan kembali kepada anak cucu generasi berikutnya.
Terlihat pada gambar, seorang kakek sedang memangku cucunya pada suatu upacara ke-agama-an. Sudah pasti sang kakek ingin mengajarkan kepada cucunya bagaimana menjalankan ritual agama Hindu Bali dan adat budaya setempat secara langsung. Kemudian sang cucu akan merespon dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan polos, kenapa begini-kenapa begitu? inilah tantangan bagi sang kakek maupun orang tua menjelaskan secara nalar dan logika apa yang sebenarnya sedang terjadi, sehingga tidak menyesatkan atau dapat merubah makna dari pelaksanaan sebuah upacara.

Simpel dan mudah, mungkin itu yang tergambar dari apa yang saya ilustrasikan diatas. Namun kenyataannya tidak demikian, ketika sang cucu beranjak remaja, akan banyak masukan serta pengetahuan yang didapat dari lingkungannya, baik itu dari lingkunagn pendidikan formal maupun informal yang tidak menutup kemungkinan bertentangan dengan apa yang telah dia pahami dan dapatkan dari sang kakek. Dengan demikian kondisinya menjadi tidak simpel dan mudah.

Kemudian apa yang harus kita lakukan agar dapat melestarikan budaya, adat istiadat dan sekaligus menjalankan agama Hindu serasi sejalan dengan adat dan budaya Bali? tidak ada jalan lain, selain menggali kembali nilai-nilai luhur yang terkandung didalamnya. Dan selanjutnya tugas kitalah sebagai generasi penerus untuk mengajarkan dan mewarisi nilai-nilai tersebut kepada anak dan cucu kita kelak. Entah dengan cara memvisualisasikan dalam bentuk rekaman gambar ataukah dengan cara menuangkannya dalam bentuk tulisan-tulisan, tergantung dari media yang tersedia dan yang kita pilih.

Save BALI. Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.

1 Ucapan: