Label

Minggu, 23 Agustus 2009

17-an ala I Gusti Ngurah Rai

Mungkin hanya setiap tanggal 17 Agustus, kita semua, seluruh rakyat dan bangsa Indonesia akan mengingat, mengenang serta mensyukuri atas pengorbanan dan jasa-jasa para pahlawannya yang telah berjuang merebut kemerdekaan negeri ini dari tangan penjajah.
Itu-pun sebatas upacara bendera dan acara-acara panjat pinang atau sejenisnya, yang diselenggarakan dari tingkat RT dan tidak mungkin hingga tingkat provinsi.

Lalu bagaimana dengan hari-hari atau tanggal-tanggal selain 17 Agustus? Apakah kita akan selalu mengingat dan berterimakasih atas jasa-jasa serta pengorbanan para pahlawan kemerdekaan? Apakah kita akan selalu bersyukur atas keberhasilan mereka yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi meraih kemerdekaan negeri ini?

Saya yakin tidak satupun diantara kita akan berusaha untuk mengingat dan terus mempertahankan semangat perjuangan para pahlawan yang mengusir penjajah.
Cobalah tengok tugu-tugu yang dibangun untuk memperingati suatu peristiwa penting yang pernah terjadi, atau patung-patung para pahlawan yang dibangun berdiri kokoh gagah berani, guna memperingati jasa-jasanya. Semua itu akan 'dihias' dan 'bersolek menjelang peringatan hari kemerdekan bangsa ini, lalu setelah hari itu berlalu, mereka akan 'kesepian' dan tidak ada yang mau menolehnya lagi.

Nama I Gusti Ngurah Rai sangatlah mendunia, siapa yang tidak tahu bandara internasional di Bali yang terletak di Tuban-Badung bernama Bandara internasional I Gusti Ngurah Rai. Akan tetapi ketenaran nama itu tidak serta merta memberikan ketenaran dan keindahan pada sosok patung I Gusti Ngurah Rai yang dibangun di jalan by pass Ngurah Rai Tuban-Badung.
Mungkin bagi orang yang pertama kali datang ke Bali dan kebetulan melintas di jalan tersebut tidak akan mengenal sosok patung tersebut? dikarenakan sudah tidak terawat, kumuh (telah dikelilingi pemukiman dengan bangunan semi permanen, dan rawa-rawa yang tidak tertata rapi).

Ketika saya masih kecil, senang rasanya bisa duduk santai di pelataran patung Gusti Ngurah Rai, diwaktu sore hari, apalagi pada saat hari-hari besar nasional, suasana terasa damai meskipun beberapa kali pesawat terbang melintas persis diatasnya. Sangat terasa suasana jikalau negeri ini telah merdeka. Kadangkala hayalan membawa saya ke masa-masa perang kemerdekaan dibawah komando beliau, meskipun hanya bisa memandang sosok I Gusti Ngurah Rai dalam wujud patung.

Tapi saat ini, siapa yang peduli? jangankan meneruskan semangat perjuangan beliau, yang peduli dengan sosok beliau yang berupa patung saja tidak ada.
Entahlah, kapan kita akan sadar untuk selalu menghormati para pahlawan, meskipun tidak hanya pada tanggal 17 Agustus. Paling tidak kita tetap peduli dan merawat patung atau tugu peringatan para pahlawan negeri Indonesia tercinta ini.

Apakah mungkin hal itu terjadi? mungkin saja, jika kita memulai dari diri sendiri untuk selalu mengobarkan semangat perjuangan dalam bidang apapun demi kemajuan negeri ini.

Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.

1 Ucapan:

  1. Blog anda OK dan unik Banget!. Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://bookmarking.kombes.com Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!

    Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger memberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.

    Salam hormat
    http://kombes.Com

    BalasHapus