Itulah kata-kata yang selalu terlontar dari ucapan Kakak sulung saya, ketika kami berusaha berkomunikasi melalui email maupun sms dalam bahasa inggris. Memang benar apa yang diucapkannya karena memang tata bahasa inggris saya amat sangat kacau dan sedikit nyeleneh terdengar di telinga, maklum belajar berbahasa inggris di pinggiran pantai Kuta, bersama dengan para pedagang asongan yang menjajakan barang dagangan kepada setiap turis yang melintas di sekitar pantai.
Saya menjadi teringat kembali dengan 'sentilan' halus itu, ketika sedang mengikuti kelas diploma, seorang fasilitator yang pakar di bidang Human Resource Manajemen memberikan presentasinya dan tiba-tiba ada seorang kawan melakukan interupsi mempertanyakan perusahaan-perusahaan besar yang ada di Indonesia selalu mempekerjakan orang asing atau ekspatriat, apakah karena orang-orang Indonesia kurang pintar?
Jawabannya sangat sederhana dan menyentil saya, 'orang Indonesia tidak pandai berkomunikasi dalam bahasa inggris' yang merupakan bahasa pergaulan internasional. Oleh sebab itu perusahaan besar asing maupun lokal lebih senang mempekerjakan ekspatriat, yang fasih berkomunikasi dengan bahasa internasional dengan harapan mampu mengkomunikasikan atau memasarkan perusahaan hingga dapat bersaing di pasar internasional.
Mungkin ada benarnya juga, dari segi kemampuan teknis atau pengetahuan secara umum orang Indonesia tidak kalah dengan para ekspatriat, hal ini terbukti dari banyaknya medali yang diperoleh para pelajar Indonesia diajang olimpiade fisika maupun matematika. Kemampuan menjadi lebih unggul, karena kita berada di rumah atau negara sendiri, tentu kita paham dengan karakter maupun budaya bangsa sendiri.
Tidak mengherankan pula banyak tenaga kerja Indonesia menggarap sektor kelas rendahan di negara lain, karena salah satu faktor komunikasi yang pas-pasan disamping kurangnya perhatian pemerintah terhadap pendidikan formal.
Lalu apa yang salah? seingga kita bisa berkomunikasi dengan bahasa internasional? sudah pasti dan tidak lain adalah sistem pendidikan yang kurang memperhatikan 'soft skill' anak didiknya untuk mempu bersaing di dunia Internasional.
Coba kita ingat seberapa sering kita mempergunakan bahasa inggris dalam kehidupan sehari-hari? mungkin hanya pada saat mengikuti pelajaran bahasa inggris di sekolah ataupun tempat kursus saja, itupun kadangkala bolos. Sangat sedikit waktu yang kita pergunakan untuk mengasah kemampuan dalam menguasai bahasa asing
Jadi, apa yang harus kita lakukan agar sumber daya manusia Indonesia mampu bersaing dan menjadi majikan di negerinya sendiri?. Mungkin salah satu langkah nyatanya adalah memulai dari sekarang bimbing putra-putri kita mempelajari dan mampu menguasai minimal 1 bahasa asing, terutama bahasa inggris yang merupakan bahasa bisnis secara global. Niscaya 10 hingga 15 tahun kedepan Indonesia akan menjadi bangsa yang kaya raya dan besar.
Semoga damai di hati, damai di dunia, damai selalu.
0 Ucapan:
Poskan Komentar