Label

Sabtu, 01 Januari 2011

Bali Bukan (lagi) Seribu Pura

Beberapa waktu lalu tepatnya di bulan Mei 2010, saya mendapat kesempatan beberapa hari untuk kembali ke tanah kelahiran di Denpasar. Tepat pukul 11.20 siang hari, pesawat terbang yang saya tumpangi mendarat di Bandara internasional Ngurah Rai. Perasaan kangen kepada orang tua, saudara dan keponakan segera menyeruak di dada, rasa lelah perjalanan dari Jakarta terasa lenyap seketika.

Setelah beberapa saat antri di dalam pesawat untuk mendapatkan giliran turun, saya sudah merasakan suasana bali (banget), terbesit lamunan masa lalu pada saat untuk pertama kalinya meninggalkan pulau dewata. Suara gamelan slonding yang menyejukan hati sayup-sayup terdengar begitu kaki melangkah ke dalam ruang kedatangan, meskipun itu hanya berasal dari rekaman.

'mmm...lumayan pengelola Bandara masih punya selera pelestarian seni musik tradisional', gumam dalam hati, meskipun tidak ada perubahan yang mencolok dari segi arsitektur maupun interior ruang kedatangan, masih seperti setahun yang lalu. Hampir 40 menit menunggu bagasi, koper bututku belum nonggol juga, 'weleh... kok lama ya? padahal penumpang dari jakarta tidak ramai', hanya bisa menggerutu dalam hati...sabar...

Akhirnya koper hijau pudar muncul juga, segera saya raih dan menyeretnya keluar sembari mencari nomor telepon kakak sulung yang bersedia meluangkan waktu untuk menjeput.
Kaki-kaki terus melangkah menuju pintu keluar, ternyata kakak saya sudah menunggu diantara pemandu wisata dan penjemput yang lain.
Cakap-cakap sebentar lalu kami melangkah keluar gedung kedatangan, mata mengawasi sekeliling gedung itu dan bertanya, 'parkir di mana? kok sekarang banyak resto di sini?', kakak sulung hanya menunjuk kearah parkiran yang agak terhalang bangunan-bangunan baru yang sama sekali tidak ada arsitektur Bali-nya. 'oooo....sudah berubah ya?'gumam di bibir tanpa ada tanggapan.

Mobil kamipun melaju meninggalkan area bandara menuju Denpasar, dengan penuh awas dan sesekali menoleh ke belakang, saya melihat gedung-gedung baru di kanan kiri jalan. Tahun 90an, daerah bypass Ngurah Rai dari Tuban sampai Sanur penuh dengan pepohonan, hamparan sawah dan hutan bakau, namun sekarang penuh dengan bangunan berupa ruko dan tempat-tempat usaha lainya. Kemana pohon-pohon, sawah dan hutan bakau itu? Atau mungkin sekarang Bali sudah berubah julukan menjadi Pulau Seribu Ruko? ataukah karena saya jarang ke Bali sehigga tidak tahu pembangunan di pulau Bali?...entahlah, moga-moga hanya kekhawatiran saya belaka dan Semoga julukan Bali sebagai Pulau Dewata atapun Pulau Seribu Pura tetap demikian adanya hingga hari 'kiamat' tiba.

Damai di Hati, Damai di Dunia, Damai Selalu.

0 Ucapan:

Poskan Komentar